Juwana
JUWANA PROJECT


 



WAYAHE SINAHU, LAPAK SENI JUNI 2014

 


 Segera Hadir kembali " Lapak Seni Juwana ". Pentas Seni Tradisional, Theater, Musikalitas Puisi,Serta Pameran Juwana dalam Bingkai. Tempat Silugonggo Square Juwana. 20-21 Juni 2014 #Teaserposter#lapaksenisabanan                                                      

                                       



AKTIFITAS PELABUHAN DAN PASAR JUWANA MEI 2014

 


                  

 

  

fOTO: Al Lien, diambil dari kronologi fb AM. Nugroho


DPD RI Poppy S Dharsono Sumbang Korban Banjir Juwana


 

 Satu truk pakaian baru telah datang di posko MWC NU Juwana kepada tim GP Ansor dan Banser Juwana pukul 11.00 wib 2/2/14. Sumbangan datang dari DPD RI Poppy S Dharsono untuk korban banjir. Bersama Timnya Poppy ingin memberikan kepeduliannya kepada para korban berupa pakaian, karena termasuk yang sangat dibutuhkan oleh korban. Dalam proses pendistribusiannya Poppy didampingi para tim langsung terjun kelapangan untuk melihat kondisi korban dan saling bertegur sapa. Poppy juga berharap semoga warga tetap tabah dan sabar semogan banjir segera surut dan warga bisa beraktifitas kembali normal.


          

                       


             


             




WILAYAH JUWANA BANJIR 

 


   

 

   

 

       

 

      

 

      

 

                     

 

         

 

        

 

 

 

MAHASISWA STAIMAFA KAJEN KUNJINGI BATIK BAKARAN

 


Terasa senang ada kalangan muda terutama lingkungan akademisi yang menaruh perhatian atas pentingnya budaya lokal yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Seperti yang dilakukan oleh STAIMAFA Kajen Pati yang tidak hanya menyelenggarakan kuliahnya dikelas namun juga dilapangan mengkaji kearifan lokal. Salah satunya Batik Tulis Bakaran Juwana menjadi obyek perkuliahan dengan langsung berkunjung ke rumah Batik Tulis Bakaran Juwana pada 18/1/14 yang lalu. Mereka ingin mengetahui secara dekat budaya batik Juwana yang sementara ini mereka hanya tahu dari literatur dan cerita-cerita orang. Melihat langsung proses membatik, mengkaji sejarah, bertegur sapa langsung dengan pembatik membuatnya belajar secara nyata . Banyak temuan yang mereka dapat dari kunjungan ini. Yang diantaranya pentingnya budaya membangun karakter warga, hubungan nilai budaya dan ekonomi, kegotong royongan, keharmonisan masyarakat, pentingnya sejarah untuk dijaga, sebuah kemandirian masyarakat, dan tumbuh kembangnya batik bukan hanya motif ekonomi saja namun karena nilai budaya yang lebih utama.

Dengan adanya kepedulian para akademisi, intelektual akan kearifan lokal ini pastinya membantu menjaga dan menumbuhkembangkannya hasil karya nenek moyang bangsa. Saya ucapkan terima kasih atas kunjungannya STAIMAFA, teruma kepada dosen pembimbingnya pak Subkhan dan pak Ali Romdhoni bisa berbagi bersama.

   

yuwanamu



PANEN UDANG PANAMI DAN BANDENG

 


 

Menjelang senja sembari hujan rintik-rintik, salah satu petani tambak sedang memanen tambaknya. Ikan yang dipanen adalah udang panami dan bandeng. Asik banget melihatnya. Unsur gotong royong masih kental di kalangan para petani. Tak terasa kena rintik-rintik hujan karena serunya memanen ikan. 

Tambak ini diolah secara alami. Semua bahan makan ikan dari alam mulai dari ikan ditanam sampai panen. Hampir semua para petani masih menggunakan pakan alam dan ada pula sebagian yang pakai pakan pabrikan.

 

Boim, sang pemilik tambak Langgenharjo ini beralasan karena pakan alam membuat udang lebih tahan dari penyakit dan cuaca. Hasilnya juga memuaskan. "Rata-rata petani disini sukses", katanya.

 


  


  


 

yuwanamu



ZIARAH SEJARAH, Peringatan SUNAN NGERANG 2013

 


Sunan Ngerang, masih banyak kalangan yang belum tahu siapa sebenarnya. Padahal dalam sejarah Sunan Ngerang adalah gurunya Sunan Muria salah satu anggota Wali Sanga. Sunan Ngerang berkiprah dan meninggal di Juwana tepatnya di desa Pekuwon. Makamnya berada di makam sentono Pekuwon yang sudah masuk dari cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Ditarik kebawah keturunan Sunan Ngerang sampai pada Raja kasultanan Surakarta sekarang ini.


Setiap setahun sekali masyarakat mengadakan haul untuk memperingati sejarah Sunan Ngerang tepatnya pada bulan Muharram/ bulan Syura. Untuk lebih tahu siapa Sunan Ngerang bisa melakukan jelajah sejarah pada momen haul ini. Berikut dibawah jadwal kegiatannya.

 

    

JADWAL KHOUL SUNAN NGERANG 2013
(SYEH MUHAMMAD NURUL YAQIN) DS.PEKUWON JUWANA.

1.Rabu 13 nov pk 18.30 wib TAHLIL WANITA (Hj.Fatimah Zahro_Gembong)
2.Kamis 14 nov pk 19.30 wib TAHLIL PRIA (KH.Abdul Hamid_Langgenharjo)
3.Jum'at 15 nov pk 19.00wib TAHTIMUL QUR'AN BIN NADHOR (KH.Ahmad Subhan) dilanjut BUKA KELAMBU MAKAM (KH.Kholil Sarqowi_Lengkong)
4.Sabtu 16 nov pk 15.00wib JALAN SANTAI IBU2 BERHADIAH
5.Sabtu 16 nov pk 18.30 wib SHOLAWAT BARZANJI IBU2 (Hj.Sumarti)
6.Ahad 17 nov pk 08.00wib RELLY SEPEDA HIAS BERHADIAH
7.Ahad 17 nov pk 14.00 wib KARNAVAL BUDAYA bersama PASUKAN KUDA,WAROK,PENDEKAR SILAT,SENI BARONGAN TUMPENGAN,ATRAKSI SEPEDA ULAR,MARCHING BAND,LIMBAD,DLL
8.Ahad 17 nov pk 19.30 wib PENGAJIAN DAN DZIKIR (KH.Muhyidin Alawy_Jaken)
9.Senin 18 nov pk 07.00 wib TAHTIMUL QUR'AN BIL GOIB
10.senin 18 nov pk 19.30 wib ISTIGOSAH (KH.MUJIB SHOLEH,KH.KHOLIL SARQOWI,KH.ASMU'I SADZALI,KH.ABDUL HAMID,KH.AHMAD SUBHAN)
11.ACARA PUNCAK . SELASA 19 NOV pk 13.00 wib
PENGAJIAN AKBAR DAN DO'A BERSAMA
HABIB MUSTHOFA BIN MUHAMMAD AL AYDRUS TUBAN.
Bp.Haryanto Bupati Pati
KH.AHMAD FADHIL PATI
KH.KHOLIL LENGKONG
KH.ASMU'I SADZALI
KH.ABDUL HAMID
12.Kamis 21 nov pk 19.30 wib
penutupan panita ,manaqib.

Semua acara berpusat di Makam Sunan Ngerang

informasi center: munadi 082322743866




LAPAK SENI "NGUMPULKE BALUNG PISAH"

 



Nyuwun pangestune.. Sedulur-dulur Juwana Badhe wonten acara " Lapak Seni Suronan" temanipun "Nglumpuke Balung pisah" Pentas Seni Tradisional lan Musik Akustik, 15-16 November 2013, Dino Jum'at- Sabtu di Proliman Juwana.

                                                                   

       




PELATIHAN MEMBATIK PERINGATI HARI BATIK NASIONAL

 


Dalamrangka hari batik Nasional 2 Oktober 2013, "Juwana Batik" menggelar pelatihan batik di pendapa  balai desa Langgenharjo juwana 4/10/13. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak sekolah dan masyarakat berjumlah 70 orang. Diharapkan dari kegiatan ini bisa menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap batik sebagai tradisi peninggalan budaya nenek moyang selain itu supaya bisa menjadi generasi pemegang estafet bangsa. Pelatihan batik dimulai dari pukul 08.00 hingga 16.00 wib yang dibuka oleh kepala desa Langgenharjo.


   


  


  


  

irham yuwana




KAMPOENG RAMDHAN DJOEANA untuk NGABUBURIT

 


Sambil menunggu buka puasa enaknya adalah ngabuburit. Pertanyaannya bulan puasa ini ngabuburitnya dimana ya enaknya ?. Tidak perlu bingung menentukan tempat yang enak untuk menunggu buka puasa. Kampung Ramadhan Djoeana menawarkan tempat yang paling asyik untuk itu. Seperti apa sih Kampoeng Ramadhan Djoeana itu ?, Berikut penjelasannya ....

                                                                   

Kampoeng Ramadhan Djoeana  (KRD) adalah sebuah wadah yang kegiatannya diramu sedemikian rupa dilaksanakan dalam rangka mengisi bulan Ramadhan yang penuh berkah. Merupakan wadah publik masyarakat Juwana dan sekitarnya khususnya warga Nahdlotul Ulama’ untuk mengekspresikan  apa yang dimiliki dan apa yang ada di Juwana. Dengan tujuan bisa membuat dampak positif dimasyarakat dibidang sosial-budaya, seni, Iptek,  ekonomi, keberagamaan, pluralisme.

 

KRD dilaksanakan setiap tahun sekali pada momen bulan ramadhan dengan tema yang berbeda-beda. Untuk Ramadhan yang akan datang sebagai kali pertama KRD dijalankan mengusung tema “Gebyar Ramdhan Berkah Generasi Emas NU”. Tema ini di angkat dengan tujuan untuk memberikan wadah sebagai ajang beraktualisasi generasi muda NU disegala bidang, dan mencetak kader emas NU.

 

KRD ini dilaksanakan 1 bulan Ramadhan penuh mulai pukul 13.00 – 21.00 wib. Bentuk kegiatannya ada dua. Yang pertama kegiatan yang setiap hari digelar dan yang kedua kegiatan digelar sesuai jadwal yang ditentukan.

 

Kegiatan yang tiap hari digelar adalah Pasar Rakyat (PR). PR ini sebagai ajang pameran karya dari masyarakat Juwana atau seponsor perusahan yang bekerjasama. Dan juga melayani penjualan ritail bahan pokok, dan kebutuhan masyarakat terutama kebutuhan buka puasa. Ada juga pameran buku, elektronika dll. Diutamakan nanti warga NU atau anggota yang mempunyai produk bisa partisipasi. Hal ini untuk melatih dan mengembangkan kemandiriana anggota dan masyarakat. PR diatur dalam bentuk stan-stan untuk pameran dan penjualan.

 

Kegiatan yang digelar sesuai jadwal adalah program acara harian yang berganti-ganti. Yang meliputi, lomba-lomba (olimpiade sain, seni, teknologi), pentas seni-budaya, sarasehan, buka bersama, festifal kuliner,  Ngaji bareng.

Berikut jadwal agendanya : 

I. Pasar Rakyat
Hari / tanggal            :  Senin, 8 Juli – 7 Agustus 2013
Jam                         :  pukul 13.00 – 18.00 wib
Tempat                    :  Gedung Haji Juwana

II.  Seni Rebana Klasik

Hari / tanggal            : Setiap hari Jum’at selama bulan Ramadhan

Jam                         : 15.30 - 18.00  wib

Peserta                    : Grup Rebana sekecamatan Juwana

III.             Ngaji

Ngaji Ekonomi

Tema                       : “Membangangun Generasi Pengusaha Muda NU”

Hari / Tanggal            : Ahad, 14 Juli 2013

Jam                         : pukul 15.00 wib             

Dihadiri                     : Abdul Ghofar Rozin, M.Ed, AM Nugroho ( Bos Kanigoro Krom)

Tempat                    : Gedung MWC NU Juwana

Ngaji Budaya

Tema                       : Budaya Pemersatu Bangsa

Hari / tanggal            : Kamis,25 Juli 2013

Jam                         : pukul 20.00 Wib                 

bersama                   : Allisa Wahid (Putri Gus Dur)

                              : Raden Haryo (Semarang)

Tempat                    : Gedung Haji Juwana

Ngaji NU

Tema                       : NU Untuk Negri

Hari/ tanggal             : Sabtu, 3 Agustus 2013

Jam                         : Pukul 20.00 wib        

Bersama                   :  Gus Umar, DR. Ab. Karim

Tempat                    : Gedung Haji Juwana

Ngaji IT Preneur

Tema                       : Menjadi Pengusaha Online, Kaya Dari Web

Hari/ tanggal             : Senin, 29 Juli 2013

Jam                         : Pukul 13.00 – 18.00 wib                       

Bersama                   : Budi Hartomo ( Jakarta )

Tempat                    : Gedung Ansor Juwana

Fasilitas                   : Buka Bersama, Wifi Area

Pendaftaran             : Via SMS. Cp ( Aziz : 0857 26 225 372, Aris : 085646578356)

Nb                          : Peserta Terbatas, Laptop Bawa Sendiri, Pendaftaran Rp 25.000,-

IV.             Lomba - Lomba

a.      Mewarnai Logo NU

Siswa-siswi PAUD & RA / TK

Hari / tanggal           : Senin, 22 Juli 2013

Jam                        : pukul 13.00 wib

Hari / tanggal           : Selasa, 16 Juli 2013

Jam                        : pukul 20.00 wib

b.      Lomba Lukis Tema Ramadhan & NU

Siswa-siswi SMP & MTs

Hari / tanggal          : Senin, 22 Juli 2013

Jam                       : pukul 13.00 wib

Hari / tanggal          : Selasa, 16 Juli 2013

Jam                         : pukul 20.00 wib

c.       Lomba Tilawatul Qur’an

Siswa siswi TPQ, MI, SD

Hari / tanggal            : Senin, 22 Juli 2013

Jam                         : pukul 13.00 – selesai

Peserta                    : Siswa siswi Mts, SMP, MA, SMA

V.   Pentas Seni Pencak Silat

Hari / tanggal           : Ahad, 28 Juli 2013

Jam                        : pukul 14.00 wib - selesai

Bersama                  : Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Pati

Tempat                   : Gedung Haji Juwana

VI.             Parade Band Religi

Hari / tanggal            : Setiap hari sabtu selama Ramadhan

Jam                         : 16.00 – 17.30

Peserta                    : grup band se kab. Pati

Tempat                    : Gedung Haji Juwana

Cp.: panitia : 085645578355 (aris)




BANDENG JUWANA TANPA DURI

 



                                                   

Di samping penghasil bandeng segar, di Juwana juga banyak sentra industri olahan ikan seperti bandeng presto dan bandeng cabut duri. Bandeng presto adalah cara untuk mengempukkan duri-duri dengan dimasak secara khusus. Sedangkan bandeng cabut duri adalah cara mengilangkan duri-duri bandeng dengan dicabut satu per satu dalam kondisi masih mentah. Para pedagang ikan di pasar Juwana Porda biasanya juga melayani penjualan bandeng cabut duri. Biasannya pesanan datang dari rumah-rumah makan atau industri rumahan tertentu. 

Proses cabut duri  biasanya dilakukan oleh buruh-buruh wanita yang sudah terlatih yang biasanya bekerja secara lepas atau ikut seoarang juragan ikan. Mereka dibayar sebesar Rp. 1.500 s/d 2.000 untuk tiap ekornya. Hingga tak mengherankan jika harga bandeng cabut duri bisa lebih tinggi 3 s/d 4 kali lipat harga bandeng segar biasa.

Berikut ini sedikit teori tentang cara mencabut duri bandeng, jika Anda ingin mencobanya sendiri di rumah :


  1. Bandeng dibersihkan dengan cara dicuci dan dibuang sisiknya.
  2. Belah bandeng dari arah atas / punggung. Belah dengan cara sejajar dengan duri tengah agar tidak memotong duri-durinya. jika duri ikut terpotong malah akan susah mencabutnya.
  3. Buang isi perut sambil dibersihkan.
  4. Mulai mencabut duri-duri bandeng tersebut satu per satu yang jumlahnya ada 164 buah seperti gambar dengan pinset.
  5. Bersihkan lagi dan bandeng siap dimasak
 
    
 
 
Demikian sedikit teori cara mencabut duri bandeng. Tapi kalo gagal dan ancur hasilnya.... saya tidak tanggung loh ya...! (mbah Latif)



 

Film Batik Bakaran

Ini Film tentang Batik Bakaran Juwana proses produksinya dan kondisi masyarakat sekitar






LAPAK SENI SABANAN 2013

 


Kegiatan seni-budaya memang tak terbatas dengan ruang dan waktu, kapanpun dan dimanapun bisa dilakukan. Bagi seniman juwana yang tergabung dalam komunitas Cah Juwono Pluralitas (CJP) melihat seni dan budaya adalah menyatu dalam sendi kehidupan manusia. Seperti Sabanan sebuah tradisi tahunan yang ada di bulan Syakban.


Sabanan adalah kegiatan tradisi di Juwana mulai tanggal 1 hingga 15  Syakban. Pasar malam/ pasar  murah adalah bagian dari Sabanan. Kegiatan lain adalah "Lapak Seni Malem Limolasan" yang diselenggarakan oleh komunitas Seniman Juwana. Lapak seni ini sebagai ajang berkespresi, berkesenian dan ajang kumpul lintas komunitas. Acaranya meliputi pentas seni tradisional, barongan, pentas tari, teater, seni karawitan, pentas puisi dan lain sebagainya.


Tepatnya pada Sabtu malam Minggu 22 Juni 2013 kemaren lapak seni digelar di Proliman Juwana. Jalanan sempat macet karena penonton yang menjubel. Lapak seni ini digelar setiap malem limolasan syakban selain hari-hari besar lainnya.


                       


       


                             


         

(irham yuwanamu, Foto: AM. Nugroho)



HAUL SAYYID ABU BAKAR AL-QODRI

 


Masyarakat desa Bajomulyo Juwana hari ini 2/6/2013 merayakan haul Sayyid Abu Bakar. Masyarakat mengenalnya Sayyid ini adalah Ulama' Besar keturunan Rasulluallah yang telah berjuang menyebarkan ajaran Agama Islam didaerah Juwana, khususnya Bajomulyo.


Bajomulyo dulu dikenal Suku Bajo, memang desa ini banyak pendatang termasuk suku Bajo, sehingga namanya disebut Bajomulyo. Dilihat dari letak geografisnya Bajomulyo terletak dipinggir kali Juwana yang dulunya merupakan pelabuhan besar didaerah pantura setelah pelabuhan Tuban. 


Acara haul ini kegiatannya adalah mulai dari karnafal, khataman al-Quran, Tahlilan dan diakhiri pengajian akbar.


 


     


   


     


    

 

Foto: AM. Nugroho



ASAL MUASAL INDUSTRI KUNINGAN JUWANA

 


 

                        

 

Adalah seorang yang bernama Mbah Rewok (makamnya ada didesa Pajeksan Kec. Juwana yang pada jaman dahulu disebut JUWANGI) membawa kepintaran melebur (mengecor / casting) Logam Kuningan. Beliau salah seorang pekerja pembuatan ‘jalan Daendels’ jalan sabuk dipantura Pulau Jawa terbentang dari ujung Barat hingga ujung Timur. Kepintaran ini ditiru / katakanlah diwariskan pada masyarakat sekitar yang merupakan ciri khas hasil produksi industri kuningan di Juwana.

 

 

Produk cor logam di Juwana spesifik yaitu ‘industri’ bukannya kerajinan (seperti halnya Yogya / Kota Gede) hal ini bukanlah ciri khas tradisional ‘timur’ tetapi lebih kearah ‘barat’; pada waktu mengerjakan suatu pekerjaan, perajin akan memikirkan terlebih dahulu peralatannya dan akan membuat lebih dulu ‘toolsnya’ atau alat bantunya dan sedikit ‘scenario’ proses kerja dari awal hingga akhir.

 

 

Sikap inilah yang mendukung masyarakat Juwana dalam mengembangkan Industri Rakyatnya dan merupakan keunggulan dari daerah lainnya.

 

Pusat Industri Kuningan pada mulanya ada didesa Pajeksan kemudian bergeser kedesa Kudukeras dan menemukan puncaknya didesa Growong (Growong Lor dan Growong Kidul) karena jumlah populasinya yang besar (4800 hak pilih) dan lingkungannya mengijinkan (masyarakat tidak terlalu mempermasalahkan polusi). Pergeseran ini karena pekerja yang ada telah mendirikan industri dirumah nya masing - masing.

 

Peta terakhir, Industri Kuningan telah menyebar ke 7 Kecamatan; karena perusahaan yang ada merasa kesulitan untuk mencari tenaga kerja disekitarnya, akhirnya datanglah pekerja dari desa lain bahkan kecamatan yang lain; banyak dari pekerja ini menjadi majikan didesa / kecamatannya sendiri.  (Yuwanamu - Sumber: Kanigoro Krom)




PENTINGNYA PENDIDIKAN USIA DINI

PAUD BISMILLAH BUKA PENDAFTARAN


 

     

“Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar”

 

“Jika anak banyak diberi dorongan ia akan terbiasa percaya diri”

 

“Jika anak banyak dipuji ia akan terbiasa menghargai”

 

“Jika anak diperlakukan dengan jujur, dia akan terbiasa melihat kebenaran”

 

“Jika anak ditimang tanpa berat sebelah ia akan terbiasa melihat keadilan”

 

                                        Sungguh indah dunia ini !

 

                                        Bagaimana buah hati anda ?

 PAUD BISMILLAH  “Bangun karakter anak dan kemandirian”

 

 

 

Fasilitas :

 Pendidikan berkarakter qur’ani

 Pendidikan berbasis alam dan lingkungan

 Fasilitas aman, nyaman, berkelas dan berkualitas

 Parenting (konsultasi psikologi)

Arena bermain luas

Alat permainan edukatif       

Perpustakaan anak (wali siswa bebas baca dan pinjam)

 

     

 

Kurikulum :

 

Standar kurikulum dilaksanakan bagian integral dari standar Nasional Pendidikan yang diamanatkan dalam peraturan pemerintah no: 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan yang dirumuskan dengan mempertimbangkan karakteristik penyelenggaraan PAUD.

 

Kurikulum akhlak, melalui konsep teladan pengembangan SQ (Spiritual Quotient) yang diimplementasikan secara praktis melalui pengamatan alam dengan mentadaburi isi alam serta belajar melalui teladan (Learning by Qudwah) untuk pemantapan kecerdasan spiritualnya. Dan dikembangkan secara holistic-integratif untuk memenuhi aspek-aspek perkembangan anak (fisik-motorik, kognitif, sosial, emosional) dan terintegrasi dengan nilai-nilai ajaran Agama Islam.

 

 

 

Kegiatan Belajar mengajar :

 

Sentara Balok, sentra main peran, sentra permainan, sentra seni, sentra perpustakaan, sentra alam, sentra musik dan gerak

 

 

 

Pendaftaran :

 

Dubuka mulai 11 April 2013 di PAUD Bismillah Ds. Bakaran Kulon Jl. Juwana-Tayu Km 2

 

Sarat :       

        Taman Penitipan Anak usia 2-5 tahun

        Kelompok bermain usia 2-4 tahun

        Taman Kanak

         Mengisi formulir pendaftaran

         Menyerahkan foto kopi Akta kelahiran/ surat kelahiran

         Menyerahkan foto kopi KTP orang tua

         Pendaftaran mulai jam 08.00-11.00 wib 

         Pendaftaran ditutup sampai kuota penuh 

Biaya pendidikan tidak membebani, semampunya wali siswa. Pendidikan untuk masyarakan adalah misi utamanya.

    

sumber: http://www.paudbismillah.web.id/Pendaftaran+baru+20132F2014

 

 



KUNJUNG KE JUWANA, INI PETANYA

 


Juwana adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kota Juwana terletak di jalur pantura yang menghubungkan kota Pati dan kota Rembang. Kecamatan ini mempunyai banyak lapangan kerja. Hal yang menjadi ciri khas Kecamatan Juwana adalah usaha kerajinan logam kuningan yang sebagian besar terdapat di Desa Growong Lor dan sekitarnya, serta usaha tambak perikanan di Desa Bajomulya, Agung Mulyo dan desa-desa sekitarnya.

Dibawah adalah peta lokasi kota Juwana. Kendaraan keliling bisa dengan bentor, ojek motor, bejak, angkutan, bus mini, gerobak/dokar.


    


Kota Juwana dilalui oleh aliran sungai Silugonggo, salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) Waduk Kedung Ombo. Pelabuhan Juwana menjadi salah satu tulang punggung kekuatan perekonomian kecamatan Juwana. Pelabuhan ini menjadi salah satu pintu masuk kapal-kapal pengangkut kayu dari Kalimantan (sekarang sudah tidak aktif). Hasil tambak maupun tangkapan nelayan yang didapat antara lain: bandeng, udang, tongkol, kakap merah, kepiting, ikan pe, cumi, dan kerapu. (foto, teks dari: http://ayokepati.wordpress.com/2011/10/12/juwana/)




Perayaan Cap Gomeh 2013

 


Perayaan capgomeh / 15 hari setelah tahun baru imlek di juwana pada 24 Februari 2013 dumulai dari klenteng Tjoe Tik Bio


  


  


   


  

(foto Styo Pranoto)




 

Kejuaraan Antar Perguruan Pencak Silat Se-Kab.Pati


“PSHT “ Jadi Juara Umum

PATI-Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) memenuhi ambisinya untuk menjadi yg terbaik dalam Kejuaraan Pencak silat Antarperguruan Se-Kab.Pati dalam ajang yg digelar selama dua hari itu, ( 2-3 Februari 2013) PSHT menjadi juara umum .


                                   


Pertandingan yg di adakan oleh PB.IPSI Pati, dalam rangka mempersiapkan atlet Pati dalam Even PORPROV Jateng yg akan di adakan sekitar bulan oktober 2013 di Banyumas mendatang, diikuti oleh 7 perguruan. Persaudaraan Setia Hati Terate, Pagar Nusa, Joyo Gendelo, Tapak Suci, Cempaka Putih, Asad, dan Kera Sakti. Even dibuka langsung oleh Wakil Bupati Pati Sabtu Pagi, setelah pembacaan sambutan oleh beberapa panitia kejuaraan, dan sambutan perdana disampaikan oleh Tris Irawan Ketua IPSI Pati yg baru. Acara pembukaan ditandai dengan pemukulan Gong Wakil Bupati Pati dilanjutkan dengan pentas seni oleh perwakilan Warga PSHT Nurul Hidayah. Suasana Gedung serbaguna “Sasana Langgen Suka SMA 2 Pati” mendadak ramai sesak sejak pagi itu.   


Partai final yg dihelat hari minggu, berakhir dengan keunggulan Persaudaraan Setia Hati Terate yg keluar sebagai Juara Umum, dengan perolehan 4 Emas. Adapun peringkat kedua diraih Perguruan Joyo Gendelo, yg meraih 3 emas, urutan ketiga diduduki Cempaka Putih dengan 2 emas. Perguruan Asad dan Pagar Nusa masing-masing mendapat 1 emas.


Ke empat medali emas PSHT disumbangkan oleh 2 atlet putra dan dua atlet putri. Mereka adalah Roni Kusworo, Rio Muspida Saputro, Na’imi, dan Junita Evy Puhan. Roni menjadi juara pertama untuk kelas Seni Tunggal Baku Putra. Rio menjadi juara  satu Kelas F Laga Putra . Naimi menjadi juara satu kelas C laga putri, dan Junita menjadi yg terbaik di  kelas A laga putri.

  


Joyo Gendelo Berjaya di kelas B, C dan E putra. Melalui Atletnya Moh.Suhelli, Imam Ahmad Heri, dan Aldila Eko P. sedangkan Cempaka Putih diwakili oleh 2 atletnya Kamil Abdul di kelas A dan Sutrisno di kelas J putra.perguruan Asad meraih 1 emas melalui Arif di kelas D putra, dan Pagar Nusa melalui Siti Mulyani di kelas B putri.


Untuk kelas seni putri, terpaksa ditiadakan karena pesertanya hanya 2 atlet.berbeda dengan putra, yg diikuti oleh 3 peserta. Ke-11 atlet tersebut nantinya akan menjalani training center (TC) PraPorprov Jateng. Mereka akan menjalani latihan intensif dari tim pelatih IPSI Pati. Ketua umum IPSI Pati Bp.Tris Irawan mengemukakan “kejuaraan ini menjadi salah satu ukuran untuk menjaring atlet yg berpotensi. Ke depannya nanti kami akan menggelar secara rutin kejuaraan semacam ini, khususnya tingkat remaja”.


Even seperti ini sangat bagus, mengingat catatan prestasi Pati di cabang Pencak Silat selama ini biasa saja. Dengan begitu, kedepannya diharap Pati bersinar dengan prestasinya dari cabang pencak silat, yg merupakan warisan budaya asli leluhur kita. Mempelajari ilmu beladiri, berolahraga, sekaligus melestarikan budaya asli Indonesia, itulah yg terdapat dalam beladiri Pencak Silat.


Dari beberapa atlet yg kami temui, salah satunya merupakan putra asli dari juwana, yg berhasil menjadi salah satu penyabet Medali Emas. Rio M.Saputro merupakan salah satu  atlet dari PSHT yg turun di kelas “F” Laga Putra.


“Saya masuk latihan PSHT tahun 2005 di ranting Pucakwangi,karena memang di Juwana dan Jakenan waktu itu PSHT sedang vakum.tahun 2008 saya di Sah-kan menjadi Warga.ini merupakan pertandingan resmi pertama saya. Saya bangga bisa memberikan hasil yg maksimal. Di juwana sekarang sudah banyak latihan pencak silat, tidak seperti dulu.yang saya tahu, sekarang PSHT sudah ada latihan di Balai Desa Bakaran Kulon dan SMP 2 Juwana. Jadi untuk anak-anak juwana yg masih cinta dengan Indonesia, buktikan disini” ujar atlet kelahiran 25 januari 1990 yg berasal dari Desa Pekuwon tersebut, yg agak mempertanyakan semangat anak muda juwana. (M Saputro)

 

 

CATATAN SEJARAH JUWANA (JOANA) DI BELANDA



Dalam penelusuran sejarah daerah kita sendiri terkadang kesulitan, karena tiadanya dokumentasi yang jelas. Kerja dokumentasi memang tidak dianggap penting oleh nenek moyang kita, atau memang karena belum mempunyai pengetahuan soal itu. Sehingga jikalau ingin mengetahui dokumentasi derah kita, sebagai rekam sejarah zaman dulu perlu pergi ke Belanda. Konon disana lebih lengkap dokumentasi. Seperti kita ketahui salah satu situs milik Belanda memuat beberapa foto soal Joana (Juwana:sekarang).

 

Berikut foto-foto yang termuat dalam situs milik Nederland http://www.geheugenvannederland.nl/?/nl/zoekresultaten/pagina/1/joana/%28joana%29/&colcount=0&wst=joana sebagai salah satu peninggalan sejarah didaerah kita Juwana tercinta : 

1. sebuah surat saham perusahaan kereta api Semarang-Juwana (Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij)

                                              .


Judul: Sebuah saham Perusahaan Tramway Samarang-Joana (a)
kata Kunci: Eropa, teks, sosial, politik, hukum, Jawa Tengah (lokasi), Indonesia (lokasi)
Verv.jaar: 1899
teknik: kertas
obyek: saham
Ukuran: 17 x 24 cm (6 11/16 x 9 7/16 masuk)
Sumber: 5553-1a (saham, obligasi), Pameran Dunia Kolonial, Royal Tropical Institute / Tropenmuseum
Copyright: Untuk informasi: Royal Tropical Institute / Tropenmuseum
Catatan: Dari: Koleksi materi budaya
Dokumen ini terdiri dari tiga bagian: Proporsi (a) Selembar dengan kupon (b) Pernyataan (c).

 

2. Sebuah kereta uap untuk kantor pusat Perusahaan Tramway Semarang-Joana

                          

 

Judul: Sebuah kereta uap untuk kantor pusat Perusahaan Tramway Semarang-Joana
Author:
fotografer: Photographisch Atelier Kurkdjian
kata Kunci: Semarang (budaya) transportasi oleh manusia / mekanik
Verv.jaar: ca 1.915 Verv.plaats: Semarang, Indonesia
teknik:
Bahan: Kertas
obyek: foto
Sumber: [A20-299] Kern Fotografi Koleksi, Museum of Ethnology
Copyright: Untuk informasi lebih lanjut: National Museum of Ethnology

 

3. Portrait of Werono (wedono) oleh Joana. Difoto dari masyarakat ilmu pengetahuan, eksotis antara 1860 dan 1920 dari Museum of Ethnology

                                                  

 

Judul: Portrait of Werono / wedono oleh Joana, Kumpulkan potret Collection India Jawa bangsawan studio potret
Author:
diketahui kata Kunci: potret Jawa (budaya) status, pangkat dan martabat tanda-tanda, pengidentifikasi
Verv.jaar: 1879
Verv.plaats: Jawa, Indonesia
teknik:
Bahan: kertas, karton
Teknik: albumen print
Mounting: ke kartu
obyek: foto
Ukuran: Medium: 12,7 x 8,4 cm - Picture: 11,4 × 7,6 cm
Sumber: [A360-1], Kern Fotografi Koleksi, Museum of Ethnology
Copyright: Untuk informasi lebih lanjut: National Museum of Ethnology


4. Potret Raden Ayu Wurno oleh Joana, Difoto dari masyarakat ilmu pengetahuan, eksotis antara 1860 dan 1920 dari Museum of Ethnology


                                        


Judul: Portrait of Raden Ayu Wurno oleh Joana, Jawa bangsawan. studio potret Kumpulkan potret Collection India
Author:
Diketahui Kata Kunci: potret Jawa (budaya) status, pangkat dan martabat tanda-tanda, pengidentifikasi
Verv.jaar: 1879
Verv.plaats: Jawa, Indonesia
Bahan: kertas, karton
Teknik: albumen print
Mounting: ke kartu
Obyek: foto
Ukuran: Medium: 12,8 × 8,4 cm - Picture: 11,3 × 7,9 cm
Sumber: [A360-2], Kern Fotografi Koleksi, Museum of Ethnology
Copyright: Untuk informasi lebih lanjut: National Museum of Ethnology


Keterangan foto : Bahasa asli adalah bahasa Belanda diterjemahkan versi google translate. (Irham Yuwanamu)





TERASI JUWANA MAKIN LAMA MAKIN ENAK


Jika melewati jalur pantura timur Semarang-Surabaya pasti akan menemukan kota kecil daerah pesisir yang sangat produktif. Yakni Juwana. Kota ini mempunyai produk-produk lokal yang terkenal seantero Nusantara. Mulai dari produk kerajinan kuningan, batik tulis, perikanan, garam, bandeng presto dan produk kuliner lainnya. Terasi adalah salah satunya. Terasi Juwana terkenal enak dan sedap. Penasaran mau tahu bagaimana cara pembuatannya, berikut liputannya.

                        


Terasi adalah salah satu bahan penyedap rasa makanan tanpa ada bahan kimia. Produk ini seperti menjadi bumbu wajib masakan. Rasanya ada yang kurang jika masakan tanpa menggunakan terasi. Di Juwana terasi sudah membudaya sejak dulu. Di kota kecil inilah banyak diproduksi masyarakat, karena  Juwana merupakan daerah pesisir sebagai penghasil ikan dan salah satunya bahan-bahan terasi.

                                                                        

Produksi terasi Juwana merupakan industri rumahan. Dibuat secara manual dan asli tanpa campuran bahan-bahan lain. Secara rasa dan kualitas terasi Juwana lebih enak dibanding dari terasi daerah lain, karena yang membedakan adalah dari segi bahan, dan proses pembuatannya.


Adapun proses pembuatan terasi Juwana berikut ini ; pertama dari segi bahan. Bahan terasi adalah dari udang rebon (udang yang kecil-kecil dan lembut bentuknya). Rebon sendiri ada  dua  jenisnya. Pertama rebon dari tambak dan yang kedua rebon dari laut. Dari dua rebon yang berbeda ini menghasilkan kualitas rasa yang berbeda. Kualitas rasa yang paling enak dan mantab adalah rebon dari tambak. Rebon tambak lebih enak karena kadar garamnya lebih rendah dan masih segar langsung diolah. Berbeda rebon laut kadar garamnya lebih tinggi biasanya menunggu lama sebelum di proses menjadi terasi. Kebanyakan terasi Juwana bahannya dari rebon tambak karena basis masyarakat sebagai petani tambak.

                                        


Selanjutnya proses yang kedua adalah rebon dari tambak dikeringkan. Pengringan ini dengan cara dijemur di bawah panas matahari. Setelah kering rebon digiling atau ditumbuk lembut lalu dikempleng/ pengemplengan terus dijemur dibawah terik matahari yang panas sampai dua kali / dua hari. Penggilingan, pengemplengan, penjemuran ini dilakukan sampai 3 tahap. Tujuannya adalah supaya rebon itu benar-benar lembut dan halus. Terasi yang lembut lebih enak rasanya dibanding degan yang masih kasar.

      


Tahap yang ketiga adalah fermentasi. Fermentasi tidak menggunakan bahan kimia apapun dengan membiarkan terasi ditempat khusus. Lamanya fermentasi terasi mulai dari 6 bulan hingga 2 tahun. Terasi yang difermantasi yaitu terasi yang sudah halus atau yang sudah lembut digiling sampai tiga kali, dibuat kotak-kotak besar dan disimpan di tempat penyimpanan yang bersih hingga waktu tertentu. Lamanya fermentasi juga mempengaruhi bentuk tekstur dan warna sekaligus rasa dari terasi itu sendiri. Semakin lama difermentasi atau semakin tua umurnya semakin enaka rasanya. Secara tekstur dan warna terasi yang difermentasi satu tahun, lebih kasar dan warnanya agak pucat, berbeda dengan yang 1,5 tahun teksturnya lebih halus dan warnanya mulai keluar bintik-bintik hitam. Dan yang 2 tahun lebih, teksturnya lebih halus dan warnanya hitam. Proses fermentasi ini termasuk proses yang ada di daerah Juwana dan tidak dilakukan didaerah lain.

  


Tahap selanjutnya setelah difermentasi, terasi dipotong kecil-kecil sesuai ukuran. Ada yang ukuran 1 kg, 0,5 kg, 1 ons dan seterunya. Sebelum dikemasi terasi yang sudah dipotong-potong itu dijemur sekali di bawah panas matahari sehingga didapatkan terasi yang sangat kering untuk menjaga kebersihan terasi supaya tidak menjamur.

                                 


Setelah dijemur kering terasi dikemas / dibungkus siap dijual. Di masyarakat pengemasan atau packaging ada yang masih sederhana dan ada juga yang mengikuti setandar nasional.


Para produsen terasi Juwana sangat menjaga mutu produk sebelum dipasarkan. Menjaga mutu ini dengan cara mendapatkan bahan rebon yang baik, menjaga kebersihan saat proses pembuatan, tidak memberikan campuran bahan kimia, dan pengemasan yang baik.

                               


Terasi Juwana hampir dikenal diberbagai pelosok Nusantara. Pemasarannya hingga nasional. Salah satu perusahan besar yang mampu memenuhi kebutuhan nasional di Juwana adalah “Selok Jaya”. Perusahaan  ini termasuk terbesar se-Jawa Tengah produksi terasi.


Jangan lewatkan jika berkunjung ke Juwana membeli oleh-oleh terasi enak dan sedap  salah satu produk lokal. Cara mendapatkan oleh-oleh ini tidak sulit. Disepanjang jalan pantura Juwana banyak toko penjual oleh-oleh khas juwana terutama terasi. Atau kalau mau datang langsung ke produsennya juga bisa, hampir setiap rumah warga membuat terasi, basisnya ada di desa Langgenharjo dan desa Bakaran. Bisa tanya kepada tukang ojek atau tukang becak minta diantarkan ke prdusen terasi.


Konsumen jangan kuatir jika terasinya tidak habis dalam satu hari atau satu minggu bahkan satu bulan. Satu tahun pun tidak apa-apa. Karena terasi ini berbahan alami, tidak menjamur dan tidak beracun. Semakin lama disimpan semakin enak rasanya karena sama dengan difermentasi secara alami. (Irham Yuwanamu)

 



PERINGATAN HAUL KI AGENG NGERANG I, NAPAK TILAS SEJARAH


                                                               


Memperingati haul Ki Ageng Ngerang I (Sunan Ngerang ) adalah kegiatan yang pasti digelar masyarakat Trimulyo (Ngerang) setiap tahunnya. Peringatan ini digelar pada bulan maulid betepatan pada peringatan Maulid Nabi. Berbagai acara kegiatan disajikan mulai dari acara hiburan sampai dengan ritualan.


Demikian untuk mengenang jasa Sunan Ngerang di panturan ini, sekaligus napak tilas sejarah perkembangan Islam di Juwana yang telah disebarkan olehnya. Sejarah Sunan Ngerang sangat mengakar sekali di Masyarakat. 


Napak Tilas Sunan Ngerang di Juwana bisa dijumpai di dua tempat pertama di desa Pekuwon di Makam Sentono, yang peringatannya pada bulan Suro. Dan yang kedua di desa Trimulya warga menyebutnya desa Ngerang yang peringatannya akan digelar pada bulan Maulid ini. Di desa inilah Sunan Ngerang yang pertama yakni Ki Ageng Ngerang I (Kyai Ageng Ronggo Joyo ).


Adapun beberapa kegiatannya yang akan digelar pada peringatan haul sebagai berikut :

1. Pasar malam pada

    Hari : Minggu, 20 Januari  2013

    Jam : 15.00 wib s/d 22.00 wib

    Tempat: Lapangan depan rumah Bp. Purnawi Rt. 10

2. Karnaval

    Hari : Minggu, 27 Januari 2013

    Jam : 12.30 Wib s/d selesai

    Tempat:  Start halaman masjid Jami Sunan Ngerang finish halaman mushola Rt. 09

    Peserta: Group Drumband, Barongsai, Kereta wisata, rebana, masyarakat, komunitas adat, dll.

3. Sholawat al-Habsyi

    Hari : Minggu malam, 27 Januari 2013

    Jam : 19.30 wib s/d selesai

    Tempat : Masjid Jami’ Sunan Ngerang ds. Trimulyo

    Acara: Istighosah Akbar dan Rebana Al-Habsyi

    Dipimpin oleh KH. Alawi (Ponpes Nduni Jaken), Habib Ahmad Tayu, Habib Yasin Godong Purwodadi.

4. Khataman Qur’an Bil Ghoib

    Rabu, 30 Januari 2013 waktu 07.00wib s/d selesai di Makam Sunan Ngerang desa Trimulya.

5. Khataman Qur’an Binnadhor

    Hari: Rabu Malam, 30 Januari  2013

    Jam: 19.00 wib s/d selesai

    Diiringi rebana al-Habsy

6. Pengajian akbar dan tahlil umum  dan burdahan

    Hari : Kamis, 31 Januari 2013

    Jam 12.00 wib s/d selesai

    Tempat di makam Sunan Ngerng Trimulyo (yang dihadiri juga dari keluarga Keraton Surakarta)

    Pembicara :

  1. KH. Umar Muthohar (Semarang)
  2. KH. RM. Nasroh (Jatirogo Tuban)
  3. KGPH. Hadinegoro (Semarang)
  4. KH. Kumaidi Pule Tayu
  5. KH. Kholil Syarqowi (Lengkong)
  6. KH. Asmui Sadzali (Juwana)
  7. KH. Nurrochmad (Kajen)
  8. KH. Arsyad Muhammadun (Runting)
  9. KH. Ah. Sunhadi, S.Ag. (Trimulyo).              (irham Yuwanamu, sumber dari panitia)

 

 

BATIK BAKARAN JUWANA PESAN DARI MAJAPAHIT


(Batik Bakaran corak budaya pesisir)

               

 

Batik bakaran ini sudah eksis sejak zaman Majapahit pada abad 14 M yang lalu. Seni tangan ini dikembangkan oleh sang abdi dalem dari keraton yang bertugas merawat gedung pusaka yang mempunyai keahlian membatik untuk keperluan gedung pusaka itu. ”Banoewati” adalah nama dari sang abdi dalem tersebut. Pendapat lain, bahwa Nyai Banoewati  ini adalah keluarga kerajaan bukan abdi dalem.

 

Sang Nyai ini bersama ketiga bersaudara (ki dalang, kidukut, ki truno menyelamatkan diri menyusuri pantai utara ke arah barat atas desakan raja dan prajurit Majapahit, karena pada saat itu seluruh warga keraton Majapahit dilarang memeluk agama Islam.  Dalam pelarian ini sampailah pada suatu daerah, yakni Juwana tepatnya di desa Bakaran. Didesa inilah nyi Banoewati atau nyai Sabirah - warga setempat menyebutnya - tinggal dan mengembangkan keahlian membatiknya. Sehingga sampai pada saat ini batik berkembang di Bakaran dan sebagai ikon kabupaten Pati.

 

 

 

Batik bakaran sudah terdaftarkan

 

 

Batik ini merupakan wujud ekspresi masyarakat pesisir pati. Sehingga corak motifnya memperlihatkan karakter masyarakat. Tergolong ada 2 jenis motif batik bakaran, yakni motif klasik dan motif terkini/ modern. Motif klasik adalah batik yang motifnya abstrak dan berupa simbol-simbol yang mempunyai cerita unik dalam pembuatannya. Batik klasik bakaran antara lain berwarna hitam, putih dan cokelat soga.

 

Yang kedua motif modern, yang ciri  khasnya adalah motif aktual berupa bunga, ikan, air,  pohon  dsb, yang warnanya bervariasi yang merupakan hasil inovasi masyarakat. Yang menjadi khasnya lagi batik bakaran adalah motif “retak atau remek”.Teknik perajinan batik ini masih bersifat sangat tradisional, diantara teknik dan prosesnya adalah nggirah, nyimplong, ngering, nerusi, nembok, medel, mbironi, nyogo, dan nglorod.

 

 

 

Sekarang ini batik bakaran sudah ada yang daftarkan oleh Ditjen HAKI sebagi motif batik milik kabupaten Pati. Terhitung semuanya berjumlah 17 motif yang terdaftarkan.17 motif itu semuanya adalah motif klasik. Diantaranya adalah, motif blebak kopik, rawan, liris, kopi pecah, truntum, gringsing, sidomukti, sidorukun, dan limaran,  dan lain sebagainya.

 

Batik ini bagian dari karya budaya nenek moyang. Selain batik banyak situs-situs sejarah dan budaya-budaya lain yang masih bisa disaksikan. Situs-situs itu mulai dari Sigit (masjid tanpa mihrab, sumur sumpah, pepunden dll. Ada beberapa tradisi-tradisi kuna yang masih kental pada saat ini seperti, masyarakat tidak berani menjual nasi, tidak berani membangun rumah dengan bata merah, jika punya hajat harus ke pepunden apalagi saat hajat pernikahan, yaitu mengelilingi pepunden beberapa kali. 

(Irham Yuwanamu)



MISTERI ASAL MULA KALI SILUGONGGO JUWANA

 


                                                        

Awalnya saya heran kenapa pelabuhan Juwana kok di pinggir sungai, tidak seperti pelabuhan lain yang biasanya ada di tepi laut. Dari keheranan ini saya akhirnya berspekulasi bahwa alasan kenapa pelabuhan itu terletak di sungai adalah kenyataan bahwa Juwana memiliki banyak tambak. Sehingga pusat perdagangan ikan tambak berpusat di sini. Maka untuk perdagangan ikan laut pun perlu disatukan dengan perdagangan ikan tambak,  sehingga tempat yang paling strategis buat pelabuhan ikan laut adalah di sungai ini yang dekat dengan area tambak. Sementara ini saya cukup puas dengan spekulasi ini. Namun pada akhirnya saya menemukan teori lain yang menurut saya dapat menjelaskan alasan di atas.

Menurut teori itu, dulunya Gunung Muria terpisah dengan pulau Jawa. Antara keduanya dipisahkan dengan sebuah selat. Kota Jepara, Kudus dan Pati Utara awalnya ada di daratan pulau Muria itu. Hal itu berlangsung sampai dengan abad ke 16 Masehi. Namun karena pendangkalan lambat laun selat itu akhirnya menyempit dan sampai sekarang hanya selebar sungai Juwana itu. Daerah Juwana sendiri kalau berdasar teori ini berarti awalnya adalah laut yang lambat laun mendangkal menjadi payau atau rawa-rawa.

                             

                                          

Teori ini dikuatkan oleh beberapa kenyataan historis. Antara lain adalah sejarah kerajaan Demak Bintoro. Kerajaan Demak adalah kerajaan maritim dan pusat pemerintahannya di daerah Glagah Wangi. Tetapi daerah Glagah Wangi saat ini jaraknya sekitar 30 km dari pantai. Jadi dulunya Glagah Wangi adalah pantai, namun lambat laun karena pendangkalan akhirnya pantainya bergeser ke utara menjauh dari Glagah Wangi. 

Jadi saat itu (kalau menurut teori ini), Pelabuhan Juwana awalnya berada di selat. Dan selat ini pada masa lalu merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan Demak dan Tuban sebagai Pelabuhan terbesar saat itu. Dan bisa jadi pelabuhan Juwana adalah tempat transit di antara keduanya. Dengan kata lain Pelabuhan Juwana sejak zaman dulu telah ramai dikunjungi kapal-kapal dagang maupun kapal nelayan.

Tulisan ini hanya sekadar spekulasi saya semata yang referensinya saya ambil dari berbagai sumber di dunia maya. Bahkan dari materi pelajaran geografi selama di sekolah belum pernah saya temui teori ini. Jadi bagi para pembaca yang ingin tahu lebih banyak tentang teori ini silakan googling sendiri. (Mbah Latif)


 


KALI SILUGONGO ANUGERAH ORANG JUWANA

 



Memang tidak dapat disangkal bahwa beberapa titik di Juwana adalah daerah rawan banjir. Terutama yang bersinggungan dengan aliran sungai Silugonggo. Beberapa kali  terjadi banjir besar yang menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Bencana banjir terjadi saat curah hujan yang sangat tinggi sehingga air sungai meluap ke daratan. Sungai Silugonggo atau sungai Juwana ini termasuk sungai yang terbesar di wilayah Pati. Panjangnya lebih dari 65 km membentang dari bibir muara di  Juwana sampai dengan wilayah Kudus. Ratusan anak sungai kecil juga bermuara kepadanya.

                           


Namun jika kita renungkan lebih dalam, sesungguhnya sungai Silugonggo ini adalah sumber kehidupan masyarakat Pati. Ia menjadi andalan para petani dalam mengairi areal sawah mereka. Para petani tambak bandeng dan udang pun membutuhkan air sungai ini. Barangkali tanpa sungai ini Kabupaten Pati bukan lagi sebagai Bumi Mina Tani. Tanpa sungai Silugonggo mungkin tak ada lagi padi yang bisa dipanen. Dan tanpa sungai ini pula mungkin tak ada lagi bandeng dan udang segar yang bisa kita ambil.


Di sungai ini juga terdapat pelabuhan dan tempat pelelangan ikan. Di sini pula geliat roda ekonomi berputar. Hiruk pikuk perdagangan ikan itu juga melibatkan ratusan tenaga kerja, dari mulai saudagar pemilik kapal, para pedagang, para nelayan sampai dengan para kuli pengangkut ikan. Mereka semua mengais berkah dari keberadaan sungai ini. Juga fungsinya sebagai jalan alternatif bagi para petani tambak untuk mengangkut hasil panenannya dari tambak. Ini berarti sumber rejeki bagi para pemilik perahu motor kecil.

                                     

Selain itu Sungai Silugonggo ini bisa menjadi alternatif tujuan rekreasi. Kita bisa ajak teman-teman atau keluarga menyusuri sungai ini dengan menyewa cukrik (perahu motor kecil) sampai ke batas laut. Suasana air yang tenang dan birunya langit lepas akan membuat pikiran lebih fresh lepas dari urusan pekerjaan rutin yang melelahkan. Bagi yang suka memancing, ini adalah tempat yang pas. Di beberapa titik ada tempat-tempat favorit buat mancing. 

                            


 

Ada legenda menarik di sungai ini. Di sungai ini terdapat pulau kecil yang dikenal sebagai pulau Seprapat. Di atasnya terdapat makam Datuk Lodhang, tokoh legenda yang hidup sezaman dengan Sunan Muria. Dulu tempat ini sebagai katanya banyak monyet-monyet tapi sekarang sudah tak terlihat lagi. Konon katanya pula dulu tempat ini dijadikan sebagai tempat pesugihan. Dan para monyet itu adalah jelmaan dari korban yang dijadikan tumbal. Wallahu ‘alam.

 

Memang Sungai Silugonggo adalah sebuah anugerah alam. (Mbah Latif)






KWIK KIAN GIE, DARI PESISIR UNTUK NEGERI



Kwik Kian Gie seorang pengusaha Tionghoa yang pernah menjabat sebagai menteri di eranya presiden RI ke-4. Terlahir di daerah pesisir Juwana. Kepeduliannya kepada bangsa sangat tinggi sekali, dengan terlibat aktif di dunia politik demi Negeri ini. Seperti apa sosoknya, berikut ceritanya !

                                                    

Dia adalah seorang eksekutif yang pernah menjabat sebagai menteri bidang EKUIN pada masa pemerintahan Gus Dur. Juga sebagai politikus yang bergabung dengan PDI Perjuangan. Namun sosoknya lebih dikenal sebagai pengamat ekonomi. Analisisnya menyorot masalah ekonomi selalu tajam. Saat menjadi eksekutif (menjadi menteri) pun dia sering melontarkan pendapat yang berbeda dari kebijaksanaan yang diputuskan oleh pemerintah. Salah satu kritikannya yang keras adalah tentang pengurangan subsidi BBM yang berimbas terhadap kenaikan harga minyak. Dunia bisnis pun sudah lebih dulu dia tekuni sebelum terjun ke dunia politik.


Dia adalah Kwik Kian Gie. Wajahnya khas keturunan Tionghoa. Ternyata Om Kwik ini asli kelahiran Juwana, 11 Januari 1935. Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya, dia melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia selama setahun untuk tingkat persiapan. Kemudian di tahun 1956, beliau melanjutkan studi pada Nederlandsche Economiche Hogeschool, Rotterdam, Belanda (1956-1963). Sejak duduk di bangku SMA, beliau sudah mengetahui apa yang dikehendaki dalam hidup. Dalam wawancaranya kepada media tertentu KKG mengatakan bahwa sejak di bangku SMA beliau merasa bahwa kehadirannya di dunia hanya berarti kalau karyanya bermanfaat buat orang banyak. Perwujudan yang konkret ialah kalau beliau berhasil ikut serta dalam penyelenggaraan negara dan/atau pendidikan. Di tahun 1954 beliau mendirikan SMA Erlangga di Surabaya, dan beliau menjadi murid kelas 3 SMA tersebut, yang lulus di tahun 1955. Di tahun 1968 menjadi anggota pengurus Yayasan Trisakti sampai sekarang. Di tahun 1982 bersama-sama dengan Prof. Panglaykim mendirikan sekolah MBA yang pertama di Indonesia, yaitu Institut 
Manejemen Prasetya Mulya. Di tahun 1987 bersama-sama dengan Djoenaedi Joesoef dan Kaharuddin Ongko mendirikan Institut Bisnis dan Infomatika Indonesia (IBII).Dengan demikian perhatiannya juga sangat besar dalam dunia pendidikan.

                                   

 

Petualangan sebagai pengamat ekonomi Indonesia yang melihat dan mengamati langsung sistem pemerintah yang begitu korup dan sarat KKN serta otoriter di era Soeharto ‘memaksa’ Kwik harus terjun ke dunia politik. Berbekal pengalaman dan tulisan-tulisan beliau yang sangat populer di Kompas, Kwik terjun ke dunia politik bukan karena uang, melainkan ingin merubah Indonesia yang lebih baik. Ia rela melepas dunia bisnisnya : “Saya sudah punya cukup uang untuk membiayai semua yang saya inginkan,” katanya suatu kali kepada Matra. Kondisi ini sangatlah ironis dengan maraknya para politisi baru saat ini yang menjadi caleg/pilkada hanya lebih untuk meraup uang negara dan meningkatkan prestise. Kwik terjun ke dunia politik setelah dirinya mapan, dan ia konsisten memperjuangkan ilmunya (ekonomi dan pendidikan) untuk bangsa Indonesia.

Katanya dia punya adik yang masih tinggal di Juwana yaitu pak Nyoman yang mempunyai pabrik rokok Tapal Kuda yang terletak di Jl. Silugonggo Juwana.Pabrik rokok Tapal Kuda adalah pabrik rokok tertua di Indonesia.
Semoga suatu saat nanti akan muncul lagi putra asli Juwana yang berkiprah secara nasional bahkan internasional ! (Mbah Latif)


 

 

 KETHOPRAK dari PANTURA JUWANA

 


 

Suasana mendadak agak hening. Terang sorot lampu panggung meredup diganti dengan remang cahaya merah pada background panggung yang bergambar gapura sebuah istana. Lalu terdengar prolog dalam bahasa jawa yang diiringi irama rancak gamelan jawa.Seiring berakhirnya prolog, irama gamelan semakin cepat, dibarengi gelegar petasan dan kembang api. Asap kembang api yang mengepul bercampur dengan kedap-kedip cahaya merah kuning hijau menciptakan suasana panggung yang spektakuler, meski belum menggunakan teknologi tata cahaya laser. Sesaat kemudian muncullah 8 bidadari cantik membawakan tarian yang indah nan gemulai.Itulah gambaran adegan khas saat akan dimulainya sebuah pagelaran kesenian kethoprak sebelum lakon utama dipentaskan.
 

 

                               

 


Kethoprak bakaran, begitulah orang sini menyebutnya adalah sebuah tradisi yang masih  eksis dipertunjukkan. Kesenian leluhur yang masih diuri-uri masyarakat desa Bakaran. Sebuah hiburan rakyat yang masih diidolakan meski harus bersaing dengan pertunjukkan modern serta sinetron-sinetron tv. Penontonnya masih cukup banyak. Pada even-even desa semacam sedekah bumi, sedekah laut atau suronan, kethoprak pasti menjadi salah agenda tetapnya. Selain itu juga masih sering ditanggap pada acara-acara seperti pernikahan,sunatan, atau acara slametan. Beberapa orang juga nanggap ketroprak karena kaul atau nadzar ketika sudah tercapai sebuah hajat dan keinginannya. Selain pentas di daerah sendiri, kethoprak Bakaran ini juga sering ditanggap dari luar daerah. Bahkan boleh dikatakan setiap hari tidak pernah sepi tanggapan, kecuali bulan Suro dan Puasa. Saya tahu persis karena salah satunya yaitu grup ketoprak Siswo Budoyo hampir selalu mengetikkan jadwal pementasan di warnetku. Selain Siswo Budoyo yang bermarkas di desa Bakaran Wetan, ada juga Cahyo Mudo yang bermarkas di desa Bakaran Kulon.
 
 
Kesenian kethoprak selain menjadi hiburan rakyat juga bisa berfungsi sebagai media alternatif transfer sejarah serta nilai-nilai luhur tradisi (local wisdom). Babat cerita, legenda kerajaan Majapahit, Mataram, Demak, serta tokoh-tokoh legenda seperti Gajah mada, Ken Arok, Wali Songo, Sunan Kalijaga adalah lakon-lakon yang sering dipentaskan yang mengandung nilai sejarah serta nilai-nilai luhur budaya Jawa. Salah satu lakon yang saya suka adalah Saridin. Seorang tokoh yang unik dan kocak sekaligus bijak dari Pati.Juga tentang legenda Dalang Soponyono, yang bertema sejarah asal mula kota Juwana. Selain menghibur, pagelaran kethoprak juga akan memberikan berkah tersendiri kepada para pedagang kaki lima. Mereka dari siang sudah hiruk pikuk menyiapkan dagangan mereka.


Bukan hanya fragmen dan alur cerita saja yang ditonjolkan dalam pagelaran kethoprak. Dalam adegan perang atau berkelahi kita akan disuguhi gerakan-gerakan akrobatis yang memukau. Gaya tendangan dan pukulan sambil bersalto ria di atas panggung sangat luar biasa lincah diperankan para pemain yang pastinya sudah amat terlatih. Meski adegan ini sangat beresiko dan bisa menimbulkan cedera namun sangat menghibur dan mengundang decak kagum penonton. Juga beberapa kreasi penampilan replika hewan-hewan dan makhluk aneh seperti naga, gajah, macan, angrybird yang unik adalah momen yang ditunggu-tunggu para penonton terutama anak-anak. Humor segar serta tingkah polah para dagelan yang mengundang gelak tawa penonton tak henti-hentinya disisipkan di antara adegan demi adegan.Jika tidak hujan maka para penonton dari mulai anak-anak sampai nenek-nenek akan betah duduk di depan panggung sampai jam 4 pagi. Saat pertunjukkan akan berakhir. Bahkan beberapa hari setelahnya mereka masih saja memperbincangkannya. (Mbah Latif)




AYO JALAN-JALAN KE JUWANA

 


       Kalau saja tidak menyunting gadis asal Juwana sebagai istri, mungkin aku tak akan kenal kota bandeng ini. Dan tak akan pernah menulis ini. Tapi nyatanya, daerah yang sebelumnya tidak aku kenal ini, sekarang telah menjadi tempat tinggalku. Jadi sedikit banyak aku bisa berbagi apa saja yang menarik dari kota kecil di pesisir pantura ini.Dilihat dari segi geografis, Kota kecamatan ini masuk wilayah kabupaten Pati. Letaknya 12 km dari Pati ke arah timur di jalur Pantura. Dan jika kondisi perjalanan lancar maka Anda bisa menempuhnya dari Semarang sekitar 2 jam.


          


Tidak salah kalau Juwana dijuluki kota bandeng. Area pertambakan bandeng terbentang luas hampir 7 km sampai ke batas laut. Dari tambak-tambak ini setiap harinya dihasilkan puluhan ton bandeng untuk diangkut ke pasar ikan. Baik pagi, siang dan malam akan sering kita lihat puluhan orang bersepeda dengan tolok (keranjang ikan) di sepanjang jalan antara area tambak dengan pasar ikan. Sementara para pedagang ikan yang didominasi para wanita sangat sibuk melayani para pedagang ikan dari dalam dan luar kota terutama pada pagi dan malam hari. Dari sinilah roda ekonomi Juwana berputar. Selain bandeng dari tambak ini juga dihasilkan udang windu serta garam.

 


Geliat ekonomi juga tampak lebih dinamis di pelabuhan dan tempat pelelangan ikan yang terletak di tepi sungai Silugonggo. Setiap pagi hari sampai siang puluhan ton ikan segar diturunkan dari kapal-kapal yang berlabuh untuk kemudian didistribusikan ke daerah-daerah lain. Pelabuhan ikan ini tidak terletak di tepi laut tetapi di tepi sungai Silugonggo. Hal ini menjadikan sungai tersebut ramai oleh kapal-kapal baik kecil maupun besar. Aliran sungai ini juga dipakai  para petani tambak membawa hasil panennya dengan cukrik (perahu motor). Hal ini karena lebih mudah daripada lewat jalan darat apalagi kalau musim hujan.

  


Masih terkait dengan ikan, Juwana juga dikenal dengan olahan hasil ikan seperti bandeng presto, bandeng tanpa duri, bistik bandeng, pindang, trasi dan lain-lain. Konon katanya bandeng presto yang dipasarkan di kota semarang sebagian dipasok dari Juwana. Industri bandeng presto dan olahan ikan lainnya biasanya merupakan industri rumahan yang tergolong skala kecil sampai menengah. Namun cukup menyerap tenaga kerja yang sebagian besar adalah perempuan. Seperti di desa Dukutalit terdapat beberapa industri rumahan pengolahan ikan pindang yang menjadi tumpuan mata pencaharian keluarga setiap harinya.

                                    


Industri lain yang dominan selain ikan adalah kerajinan kuningan. Di Desa Growong terdapat beberapa pabrik kerajinan kuningan.Berbagai macam barang antik maupun barang keperluan rumah tangga diproduksi di sini seperti souvenir, lampu antik, handel pintu, peralatan kompor gas, peralatan kompresor, peralatan pompa air dan lain sebagainya. Produk kuningan ini telah dipasarkan luas ke seluruh Indonesia bahkan menjadi komoditas ekspor ke luar negeri. Utamanya adalah barang-barang kerajinan antik.

                            


Masih ada satu lagi dari Juwana yaitu tentang batik.Tradisi leluhur kerajian batik tulis Bakaran sampai sekarang masih tetap dipertahankan. Motif-motif batik tulis Bakaran yang khas seperti : Kawung, Parang, Manggaran, Dele kecer, Blebak, dan lain-lain telah dibuat oleh tangan-tangan trampil pembatik Bakaran. Pusatnya adalah di desa Bakaran Kulon dan Bakaran Wetan. Motif batik bakaran sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Sempat tenggelam dan hampir dilupakan. Kini, batik bakaran mulai bergeliat lagi. Saat ini, lebih dari 300 perajin terus melestarikannya.Pekerjaan "mbatik" ini ada yang dilakukan sebagai pekerjaan utama dan kadang sebagai pekerjaan sambilan. Selain memberi kesibukan para ibu rumah tangga di rumah, juga bisa menjadi penghasilan buat mereka.

         


Masyarakat Juwana, khususnya di desa Bakaran Kulon dan Bakaran Wetan masih syarat dengan budaya dan tradisi leluhur. even-even seperti sedekah bumi, sedekah laut, suronan, dan bersih desa adalah agenda desa yang rutin diselenggarakan. Selain ritual upacara adat juga diselenggarakan pementasan wayang kulit, kethoprak, lomba marathon, sepak bola sampai dengan aneka macam lomba lainnya yang bisa menjadi hiburan tersendiri buat warga. Tradisi khas lain seperti bak kawah, bak punjen, udik-udikan dan lain-lain masih sering kita jumpai di daerah ini.


               


Demikanlah sedikit oleh-olehku tentang Juwana. Jika Anda lewat pantura, jangan lupa mampir ke Juwana dan belilah oleh-oleh khas Juwana untuk keluarga di rumah. (mBah Latif, Pemilik blog:http://mbahlatif.blogspot.com)






PETA WISATA VERSI MAJALAH NATIONAL GEORAPHYC TRAVELLER

 


Media cetak bertaraf internasional majalah National Geographyc Traveller pernah meliput kota kecil yang ada di kabupaten Pati ini, yakni Juwana. Majalah ini tertarik menguak Juwana lantaran kota kecil yang punya peradaban tua, dan sejarah yang lama, juga terdapat industri kerajinan yang sudah menasional. Di Majalah ini ditulis hampir 4 halaman dengan judul "Jangan Lupakan Juwana". Judul ini memberikan pesan bahwa masih ada daerah yang patut dikunjungi oleh para pegiat wisata di kota ini. Karena banyak terdapat potensi budaya, sejarah, dan industri. Disamping itu Juwana yang sampai pada saat ini masih menjadi pusat perdagangan nasional, dan perikananya terbaik di Indonesia.


Majalah ini melampirkan juga Peta wisata disertahi nama desanya. "Peta wisata kriya dan sejara Juwana, sebuah destinasi alternatip bagi anda pecinta budaya, penikmat keriuhan pelabuhan, sampai pemerhati tradisi leluhur. Mari berkeliling kota melongok potensi kota ini", judul peta majalah yang dirilis pada September 2011.


                                                 


                                                      




ARAK-ARAKAN WARGA SYUKURAN MALAM 15 SYURA

 


Malam 15-san syuro waktu yang di anggap penting bagi masyarakat Bakaran Kulon Juwana. Moment ini selain malam ritualan bagi warga adalah waktu untuk memperingati dan mengenang sang leluhur yakni "Mbah Demang".


Masyarakat merayakan dengan mengarak nasi kuning-nasi puceng dan ubo rampe kebutuhan dapur. Arak-arakan ini digelar tepat pada 29 november 2012 kemaren. Yaitu dimulai dari balai desa Bakaran Kulon. Sebelum dikelilingkan kedesa nasi puceng dan sayuran itu dipikul dikelilingkan ke Punden Nyi Ageng Bakaran Wetan karena dalam legenda diyakini sebagai yang lebih tua dari leluhur  desa Bakaran Kulon.


Acara ini sebagai wujud syukur masyarakat pada bulan Syura dan memperingati sang leluhur. Khususnya lagi masyarakat pembatik dengan menggantungkan batik pada ubo rampe kebutuhan dapur. Hal ini sebagai simbol kesejahteraan dan wujud syukurnya para pembatik. Kegiatan ini mirip dengan acara Sekatenan di Keraton Yogjakarta.


Setelah arak-arakan ini malamnya digelar wayang kulit semalam suntuk dengan menghadirkan dalang dari Klaten Ki Tantut di depan Balai desa Bakaran kulon. (red).


  


  


 



JADWAL KEGIATAN HAUL SUNAN NGERANG

 


        

Setiap setahun sekali pada bulan Muharram Sunan Ngerang yang merupakan salah satu rekam jejak Sunan yang ada di Juwana selalu diperingati. Peringatan ini tidak hanya melibatkan warga lokal Juwana namun dari berbagai penjuru daerah ikut terlibat dan berdatangan. Mengingat bahwa Sunan Ngerang adalah guru dari sunan Muria maka keberadaanya sangat diakui oleh kalangan ulama dan sejarawan apalagi para pegiat kewalian/ kesunanan. Selain itu Sunan Ngerang masih punya jalur keturunan sampai pada Kasultanan Surakarta.

 

Sunan Ngerang yang berada di makam Sentono di desa Pakuwon kec. Juwana sudah terdaftar sebagai benda cagar budaya. Dengan pengakuan itu makam Sentono sudah mengalami pemugaran sesuai standar benda cagar budaya. Berikut agenda kegiatan haul yang setiat setahun sekali digelar oleh warga setempat di Benda Cagar Budaya Makam Sentono desa Pekuwon Kec. Juwana;


1. Sabtu Malam Minggu 24 Nov 2012 jam 19.30 wib Tahlil putra bersama KH. Ab. Hamid Rois Suriyah MWC NU Juwana di Makam

2. Minggu 25 nov 2012 jam 08,30 relly sepeda dan sore harinya jalan santai berhadiah

3. Senin malam selasa 26 Nov 2012 berjanjen putra di Makam Sentono

4. Selasa malam Rabo 27 Nov 2012 Tahtimul quran binnadhor


5. Rabo pagi 28 Nov 2012 Tahtimul quran bil ghoib di komplek makam sentono

6. Rabo malam kamis 28 Nov 2012 istighosah dan buka luwur/ buka kelambu oleh KH. Nafi' Abdillah 

7. Kamis bakda Dhuhur 29 nov 2012 pukul 13.00 wib pelelangan kelambu dan pengajian umum yang dihadiri oleh ;
  1. KH. Habib Musthofa bin Muhammad al-idrus dari Bangilan Tuban
  2. KH. Ahmad Fadli dari Pati
  3. KH. Asmui Sadzali dari Juwana
  4. KH. Kholil Sarqowi dari Batanga

(ttd. panitia)





JADWAL PEMBUATAN KARTANU 

 


Kartanu (kartu tanda anggota NU) jadwal foto pembuatan kartanu di wilayah juwana 19-25 November 2012

                                      

1. senin, 19 nov 2012 Desa Dukutalit, Bumirejo, Growong Lor, kauman, Pekuwon. Tempat di Kantor MWC NU. jam 09.00wib Penanggung jawab Bp. Joko

2. selasa, 20 nov Desa Langgenharjo do Ponpes Al-munawwar 09.00wib., Kincir di Mushola Hidayatul falah 09.00wib., Karangtawang di Musola Baiturrahman15.00wib., Bakaran Kulon di Masjid 09.00wib. 

3. Ra
bo, 21 nov Growong Kidul di Balai 09.00, Kudukeras di Masjid 09.00., Gempol di Masjid 15.00 wib.


4. Kamis, 22 nov desa Margomulya di Balaidesa 09.00wib., Sejomulyo di TPQ Garuan 09.00 wib., Trimulyo di TPQ NurHidayah 09.00 wib

5. Jumat, 23 nov desa Bendar di Masjid 09.00 wib., Jepuro di Pondok Bp. Sakur 14.00wib., Geneng mulyo di Balai desa 09.00 wib., Kebonsawahan di TPQ al-Ikhlash 15.00wib.

6. Sabtu, 24 nov Ketip di TPQ 09.00wib., Bajomulyo di MI 14.00wib., Mintomulyo di Masjid 09.00wib., Agungmulyo di musola al-fatah 09.00wib.

7. Ahad, 25 nov Doropayung di Balai desa 09.00wib., Karang di Masjid 09.00wib., Bakaran Wetan di Masjid 09.00wib., Karangrejo di Balaidesa 09.00wib.

ttd. MWC NU Juwana
1. Rois Suriyah : KH. Ab. Hamid
2. Wk. Ketua : Hamzawi, S.Pd.
3. Sekretaris : Sirin, S.Ag.




LAPAK SENI HARI KETIGA

 


17-18/11 Kegiatan Keroncongan, akustikan, baca puisi dan minggu pagi band-bandnan 

’LAPAK SENI’ adalah sebuah gelaran karya seni yang dituangkan dalam bentuk seni budaya dan ekonomi kreatif yang mewadahi kreativitas masyarakat pecinta dan pelaku seni baik komunitas maupun perseorangan di Kecamatan Juwana pada khususnya dan Kabupaten Pati pada umumnya. Berawal dari sini, kami berharap kegiatan ini akan menjadi embrio dan motivator berkembangnya proses kreatif di tengah masyarakat yang saat ini sedang mengalami dekadensi. (Didik Pratikno)

  

  

  

  

  

foto: AM Nugroho


PERTUNJUKAN SENI TRADISIONAL WARNAI MALAM SURONAN

 


Juwana tepatnya di Proliman Simpang Lima pada malam 16/11/12 tidak seperti biasanya. Hampir disemua sudut dipadati orang menyaksikan pertunjukan seni tradisional. Berbagai seni tradisional dipentaskan mulai dari seni karawitan yang dimainkan oleh anak-anak SD, seni pencak silat, Mocopatan mampu membuat penonton betah menyaksikan hingga tengah malam. 


Pertunjukan seni tradisional ini digelar oleh komunitas seniman Juwana yang tergabung dalam Cah Juwono Pluralitas (CJP) dan beberapa komponen masyarakat. Kegiatan dijadwalkan hingga Minggu pagi 18/11/12 yang disebut dengan "lapak seni Suronan".


Lapak seni merupakan pertunjukan seni tradisional yang sebagai wadah untuk berekspresi komunitas seniman. Seperti kata Didik Pratikno salah satu pegiat seni di Juwana, bahwa lapak seni sebagai tempat untuk berkarya dan berekspresi para seniman. "Lapak Seni adalah ungkapan tentang kemandirian dalam berekspresi serta memberikan wadah untuk berkarya dan unjuk kreativitas bagi teman – teman komunitas yang ada di Juwana. Mencoba menjadi ruang yang hidup menhidupi Kesenian kampung yang lama kelamaan redup karena serial TV dan peradaban Modern. Walaupun terkemas sederhana Semoga dapat membucahkan gagasan untuk Belajar,Bekerja dan Berbagi", Jelasnya.


Lapak seni Suronan ini merupakan yang kedua kalinya. Dan yang pertama dilakukan adalah pada malam 15 Sya'ban di jembatan lama. Kegiatan seperti ini rencana digelar sebulan sekali dan setiap ada hari-hari besar. Selain kegiatan seni juga digelar lapak dagangan yang menjual berbagai produk lokal. Hal ini untuk menumbuhkan perekonmian masyarakat lokal.


  


  


  


  

 (irham yuwanamu, foto: AM Nugroho)

 

 

Lapak Seni Jilid II Suronan-Ajang Kumpul Komunitas Juwana

 



       


Lapak Seni adalah ungkapan tentang kemandirian dalam berekspresi serta memberikan wadah untuk berkarya dan unjuk kreativitas bagi teman – teman komunitas yang ada di Juwana. Mencoba menjadi ruang yang hidup menhidupi Kesenian kampung yang lama kelamaan redup karena serial TV dan peradaban Modern. Walaupun terkemas sederhana Semoga dapat membucahkan gagasan untuk Belajar,Bekerja dan Berbagi.... Undangan Kawan :


Lapak Seni "Malam Suronan"
Ngelapak Barang Barang Craftmansif, Hand Print sablon....
Juwana, 16-18 November 2012
jam 15.00-Selesai...
Jum'at : Karawitan anak, Tari Tradisional Anak, Mocopatan
Sabtu : Puisi, Askutikan, Keroncong
Minggu Pagi : Gigs Band kecil-kecilan.. 
Ajang Kumpul Komunitas.
 
(Didik Pratikno)




PAMERAN SENI RUPA DKP

 


Nunggak semi adalah pameran seni rupa yang diadakan dewan kesenia Pati (DKP). Di buka pada tanggal 28 oktober 2012 di gedung DPRD Kabupaten Pati. Pameran akan berlangsung satu Minggu hingga tanggal 4 November 2012. Kegiatan ini sebagai ajang kreatifitas para seniman lokal Pati.

 

 

  


      


       

foto: Irham Yuwanamu




JAGONGAN LINTAS AGAMA PERINGATI 1000 HARI GUSDUR

 



"The next Gusdur Generation", merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang diselenggarakan kader-kader muda GP Ansor Kecamatan Juwana. Yakni dalam rangka memeperingati 1000 hari Gusdur pada 17-19 Oktober 2012 di halaman Gedung MWC NU Kecamatan Juwana. 

  

Kegiatan memperingati tokoh pluralis ini untuk mengenang jasa-jasanya, membedah buah pikirnya, menindak lanjuti perjuangannya. Sebagai generasi muda bangsa perjuangan sang Gusdur tidak dianggap mati walaupun orangnya sudah wafat. Ini terlihat saat ngobrol bareng Gusdur-Gusdur Muda di dalam Gedung IPHI Juwana yang dihadiri tooh-tokoh lintas agama, lintas keyakinan, seniman, budayawan se-Juwana. Ajaran Pluralisme masih menjadi perbincangan hangat pada petemuan itu. Salah satunya Yatno, tokoh umat Budha menceritakan keluarganya yang berwarna-warni agamanya dan itu terjalin baik-baik saja. "Saya punya anak asuh agamanya Islam, dan saya tidak mengurangi hak-haknya sebagai orang Islam bahkan saya fasilitasi dlam hal ibadah. Ipar saya juga seorang kyahi, saudara saya ada yang Kristen jadi dalam keluarga saya beraneka warna keyakinanya, dan sampai sekarang tetap teralin baik", ujarnya.

  


Dengan konsep acara yang berbasis ala tradisionil ini membuat para peserta tidak ada sekat untuk berkomunikasi antar sesama. Sebelumnya acara diawali dengan pelantikan Pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Juwana yang sebagai genearasi muda penerus Gusdur. Pelantikan dipimpin langsung oleh pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah Jabir al-Faruqi.

  


Disamping acara pelantikan, jagong lintas agama, dilanjutkan peresmian pembukaan AnsorMart oleh Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah. AnsorMart merupakan bentuk salah satu usaha yang didirikan oleh kalangan pemuda Ansor Juwana sebagai gerakan ekonomi. Tujuannya adalah untuk kemandirian organisasi, kesejahteraan anggota, pendidikan kewirausahaan, pembangunan ekonomi kerakyatan. Harwi, ketuanya mengatakan bahwa AnsorMArt ini adalah gerakan ekonomi untuk mengembangkan sisi wiraswasta anggota. "Kami mendidirikan AnsorMart ini untuk pengembangan ekonomi anggota, dan kemandirian organisasi. Dari sisi ekonomi kuat maka jalannya organisasi akan lancar saja", tuturnya.

   

 

Sebagai penghibur acara ini dimeriahkan musik seniman juwana congrond jenaka, musik keroncong tradisional jawa.

  

(irham yuwanamu)


The Next Gusdur Generation



        

Gusdur yang dinobatkan sebagai Bapak Pluralisme Bangsa walaupun sudah tiada seakan masih berada disisi kita. Pemikiran dan ajarannya masih membumi di  Nusantara ini yang terkadang  juga dikatakan kontroversial masih terus hangat menjadi perbincangan dan kajian saat ini.

 

Kini kita sebagai generasi muda bangsa  akan merasa bersalah jika gerak langkah dan pemikiran Gusdur tidak kita lanjutkan. Khususnya lagi kita sebagai generasi muda NU. Maka dari sini  pengurus Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kecamatan Juwana bermaksud mengadakan kegiatan yang bertema “The Next Gusdur Generation”, dalam rangka memperingati 1000 hari Gusdur.  Berikut kegiatannya.

 

Tujuan

 

  Mengenang jasa Bapak Pluralisme Bangsa (Gusdur)

 

  Mengkaji dan menumbuh-kembangkan pemikiran dan ajaran Gusdur

 

  Melahirkan generasi Gusdur-Gusdur Muda

 

Kegiatan

 

 Pelantikan pengurus PAC GP Ansor Kec. Juwana

 

  Pelantikan PAC IPNU-IPPNU Kec. Juwana

 

  Obrolan “Malam Gusdur-Gusdur Muda”

 

  Peresmian AnsorinMart

 

  Lomba Rebana se-Eks Karisidenan Pati

 

Waktu : 17-19 Oktober 2012

 

Penyelenggara: Pengurus PAC GP. Ansor Kec. Juwana bersama masyarakat juwana dan Seniman.

Jadwal

A.  Pelantikan Pengurus PAC  GP Ansor Kec. Juwana

 

 

 B.  Pelantikan Pengurus IPNU-IPPNU Kec. Juwana

 

 

 C.  Peresmian AnsorinMart

 

 

 D.   Obrolan “Malam Gusdur-Gusdur muda”

 

 

 E.  Lomba Rebana se-Eks Karisidenan Pati

 


F. Wayang: Dalang Anom Suroto
          tanggal : 20 Oktober 2012
          tempat: di halaman bekas Gudang Kapuk
          penyelenggara masyarakat Juwana

 

 

 

MELIHAT DEKAT NELAYAN BENDAR (PERCONTOHAN NELAYAN NASIONAL)

 




 

 

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan yang punya ketertarikan dan perhatian khusus dengan laut, mengajak saya main ke salah satu daerah pesisir di Jawa Tengah. Tepatnya di desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati.

 

Meski daerah tersebut tak begitu jauh dari rumah saya, tapi tak pernah sekalipun saya pergi ke sana. Kecuali hanya melintas ketika hendak pergi ke Semarang. Ajakan kawanku itu pun segara saya iyakan. “Ok, siap Pek,” kataku dalam sebuah pesan singkat.

Saat itu saya tak bertanya mengapa kawanku itu mengajak saya main ke Juwana. Pikir saya, kawanku itu mungkin hanya sebatas jalan-jalan sambil motret. Maklum, kawanku ini punya hobi fotografi. 

 

Dugaan saya ternyata meleset. Sebelum berangkat, saya iseng bertanya perihal itu. “Kamu saya ajak main ke Juwana supaya kamu tahu bagaimana kondisi nelayan di sana,” jawabnya singkat. Setelah ia mengatakan seperti itu, saya tiba-tiba menjadi penasaran. Akhirnya selama hampir dua jam perjalanan di bus jurusan Surabaya-Semarang, saya gunakan untuk menginterview-nya. Bak seorang wartawan investigasi, saya mencoba menggali segala informasi darinya.


Tak berselang lama kemudian, kawanku yang juga kontributor majalah Travelling National Geographic (NG) Indonesia untuk wilayah Jawa Timur ini membeberkan beberapa informasi yang belum saya ketahui. Usut punya usut, ternyata sebelumnya dia sudah pernah ke Juwana. Katanya, dulu bersama kawan-kawannya ada assignment liputan Juwana. Dari hasil liputan tersebut, ia kemudian tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai Juwana, khususnya masyarakat nelayannya.  Setiba di alun-alun Juwana, kami langsung beranjak menuju ke rumah salah seorang pengusaha krom. Di sana kami bertemu dengan pemiliknya, yang kebetulan beliaunya adalah ketua asosiasi pengusaha kecil dan menengah Kabupaten Pati. 

 

Namanya Anwar Nugroho Jarkoni, akrab dipanggil Pak Nug. Saat kami dolan di rumahnya, cina muslim Juwani ini bercerita banyak  kepada kami mengenai Juwana. Termasuk soal sejarah dan masyarakat Juwana. Kata pengagum Gus Dur ini, sebagian besar masyarakat Juwana bermatapencaharian sebagai pengrajin kuningan, batik, dan nelayan. Karena sejak awal kami ingin mengetahui masyarakat nelayannya, kami disarankan beliau pergi ke desa Bendar. Desa ini letaknya di sebelah timur kali Juwana. “Kamu langsung aja pergi ke sana, “ perintah Pak Nug.  Ditemani salah satu pemuda sana, Mas Irham, kami bertiga segera meluncur ke desa Bendar dengan Bentor. 


Sesampai di desa tersebut, sebelum bertemu salah satu nelayan di sana, saya dibuat kagum dengan deretan rumah mewah, bertingkat, dan berwarna-warni di sepanjang jalan. “Iki omah opo istana, kok apik-apik’e ngene,” batinku. Mas Irham yang memandu kami, tanpa kami tanya, ia berseloroh: “Itu rumah para nelayan Bendar.”  Setelah menempuh kurang lebih 10 menit dari rumah Pak Nug, Bentor kami berhenti di depan sebuah galangan kapal. Di sana kami dipertemukan oleh Mas Irham dengan Pak Rahmad, salah satu nelayan Bendar. Umurnya masih muda, sekitar 27 tahunan. 

 

Tidak seperti nelayan pada umumnya, penampilan Pak Rahmad sama sekali tidak mencerminkan seorang nelayan: berpakaian apa adanya, kulitnya hitam, kulu-kulu. Dengan berpakaian kemeja, celana bahan, rambut klimis dan tersisir rapi, ia menyambut kami dengan ramah.  Kami pun segara memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud kedatangan kami. 

 

Sebelum dipersilahkan masuk ke rumahnya, yang letaknya tidak jauh dari galangan kapal, kami sempat mengobrol sebentar di sana. Obrolan kami tak jauh dari soal nelayan. Kawanku terlihat antusias bertanya, demikan dengan Pak Rahmad. Beliau juga antusias menjawabnya. Sedangkan saya hanya mendengarkan obrolan mereka sambil mata saya jelalatan melihat para tukang pembuat kapal mecelikayu. 

 

Kenapa saya acuh? Jawabnya singkat: sebab apa yang diobrolkan hanyalah seputar kehidupan nelayan pada umumnya yang menurut saya biasa saja. Namun, mendadak saya menjadi tertarik menyimak obrolan itu ketika Pak Rahmad membicarakan soal teknologi nelayan. Sebagaimana diketahui, satu hal yang membuat nelayan kita ini tidak maju-maju adalah resisten alias tidak mau menerima inovasi teknologi baru. “Sekarang kapal nelayan di sini sudah banyak yang menggunakan freezer (alat pendingin),” tutur Rahmad.

 

“Nelayan di sini sudah tidak lagi dipusingkan dengan es sebagai bahan pengawet ikan. Mereka sudah menggunakan freezer yang ditaruh di badan kapal. Sehingga ikan yang didapat bisa langsung dimasukan alat tersebut. Jadi mereka bisa melaut sampai berbulan-bulan,” tambahnya. Setelah adanya freezer, lanjut Rahmad, pendapatan para nelayan menjadi meningkat karena kualitas ikan yang ditangkap sangat bagus dan itu berpengaruh pada harga jual ikan. “Beda ketika masih menggunaka es, harga ikan bisa jatuh karena kualitas ikannya jelek,” ungkapnya.

 

Obrolan itu kemudian dilanjutkan di rumahnya. Dan untuk kedua kalinya, saya dibuat heran, takjub, dan tak percaya. Setelah melihat interior rumah Pak Rahmad, rasa-rasanya saya tak percaya kalau ini rumah seorang nelayan. Bagaimana tidak, di salah satu sudut ruangan, berjejer beberapa alat-alat kebugaran tubuh seperti yang ada di tempat fitnes. Belum lagi perabotan-perabotan lainnya. 

 

“Masak seorang nelayan bisa hidup seperti itu. Apa yang membuat Pak Rahmad dan para nelayan Bendar bisa demikian? Kenapa nelayan di kampungku tidak bisa seperti mereka? Apa karena nelayan Bulu tidak punya etos kerja yang tinggi atau karena nelayan Bulu sudah merasa nyaman dengan kondisinya seperti sekarang ini?” tanyaku dalam hati. Pertanyaan itu kemudian memacu saya untuk mencari tahu, yakni dengan bertanya langsung ke Pak Rahmad. Bapak dari satu anak itu pada akhirnya menjelentrehkan kepada kami. Sambil duduk lesehan di ruang tamu dan memakan jamuan yang sudah disuguhkan, kami mendengarkan penjelasannya.

 

“Sebetulnya semua nelayan bisa seperti nelayan Bendar, asal berani ambil resiko, mau mengikuti perkembangan teknologi, dan bekerja keras tidak mudah putus asa. Maksudnya nelayan harus berani melaut sampai berhari-hari mengorbankan sementara waktu tidak bertemu dengan anak-istri beberapa hari dan bulan. Dan yang tak kalah penting adalah update teknologi, baik teknologi kapalnya sendiri atau teknologi penangkapan. Semakin lama teknologi itu berkembang, kalau nelayan tidak mau mengikuti, mereka akan ketinggalan dengan nelayan yang lain,” jelasnya. Dari penjelasannya itu, saya semakin yakin, bahwa yang menyebabkan nelayan Bulu tidak maju (berkembang) dan taraf hidupnya semakin tidak menentu adalah tidak berani ambil resiko dan resisten terhadap teknologi.

 

Keyakinan saya itu beralasan, sebab salama bergaul dengan mereka, ada sebuah jargon yang diam-diam dan sudah membudaya menjangkiti cara berpikir mereka. Kata mereka demikian: “daripada miyang ngebok, mending miyang harian, iso nang omah ben dino ketemu anak bojo. Awak ora rekoso.” Kalimat tersebut, kalau boleh saya sarikan, bunyinya demikian: “wes ora jaman wong miyang bantalan ombak lan selimutan angin. Saiki jamane bantalan lan selimutan wong wedok.”

 

Dan terkait penggunaan teknologi modern, sudah terbukti hal itu mempengaruhi hasil tangkapan ikan nelayan. Bandingkan mereka yang menggunakan teknologi radar dan pendeteksi posisi (global positioning system) dan Galaxy “Setan” dengan yang tidak menggunakan, hasilnya jelas.  Itulah seklumit kisah perjalanan saya ke Bendar, Juwana. Baik buruknya, bermanfaat atau tidak, tulisan ini saya kembalikan kepada anda sekalian, yaitu anak-anak Bulu yang masih peduli dengan nelayan Bulu.[]wak Hadi-Tuban



Pengantar Sederhana Tentang Oktober Puji Pistol

 



    
Pada mulanya Puji Pistol adalah penjual kopi. Melewati proses ...ublek-ublek: bangun tidur,beli koran minggu, jualan kopi,sakit, membaca, gitaran, diskusi, ke pasar,memberi makan kucing,  membaca,  kehabisan pulsa...hidup terjalani kemudian berhasil menerbitkan buku antalogi puisi berjudul: ANJING TETANGGAKU ANJING.


Buku puisi yang berhasil diterbitkan karena didukung orang banyak dan buku antalogi ini sejatinya adalah buku gotong royong dirombong bareng teman-teman.Lounching buku pada waktu itu bertempat di hutan kota Pati yang dihadiri ratusan orang dari Pati maupun luar kota Pati, mulai dari Kudus, Solo, Jepara, Rembang , Semarang, Blora, Jogja, bahkan ada yang dari Bali dan Jambi. Malam peluncuran buku itu menampilkan bermacam pertunjukan mengapresiasi puisi Puji Pistol bahkan turut serta sastrawan kondang dari Solo juga turut memeriahkannya.


Disamping kekuatan teks puisi buku Kumpulan puisi Puji Pistol letak luar biasanya adalah:

-DIANTARA HAMPIR 2 JUTA PENDUDUK KABUPATEN PATI. BARU ADA 1 ORANG YANG MAMPU MAMBUAT SEBUAH BUKU ANTALOGI PUISI-

*Jadi bisa dipahami betapa sangat berharganya muatan sejarah dari buku hasil gotong royong ini.

Oktober tahun lalu peluncuran buku bersejarah itu telah diterbitkan. Dan sekarang Puji pistol tetap penjual kopi biarpun sudah tercatat pada orbit penyair jawa Tengah. Ada keinginan besar untuk membuat sebuah acara Oktober Puji Pistol yang akan bertutur tentang puisi Puji Pistol dan mendengar cerita tentang perjuangn kelas yang telah dilaksanakan selama setahun ini.


Puji Pistol adalah sastrawan yang tetap penjual kopi...., tapi Puji Pistol milik kebudayaan Pati.
Isian acara pada 22 Oktober 2012 pukul 19.00-23.00 wib di GEDUNG DKP JOYOKUSUMO PATI :
- Pembacaan sajak-sajak Puji Pistol oleh antara lain : SMEA Nasional, Tompel dkk,Teater songo Salafiah,Shella si Pencil warna,dll
-Diskusi sastra oleh:(dalam proyeksi): Munawir Azis,Gunawan Budi susanto juga Timur Budi Raja,Day Milovic. (Imam Bucah)


 

Dokumentasi Batik Juwana Saat Kunjungan DPD RI Poppy S Dharsono

 


Selamat hari Batik Nasional 2 Oktober 2012. Mengingat moment ini, kini juwanadotnet mengungkap kembali memori yang tersimpan saat batik Juwana di kunjungi Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Poppy S. Dharsono pada 3/11/2011.


Semua pengrajin batik, pecinta batik yang terkumpul dalam komunitas batik Juwana tampak hadir dengan wajah yang penuh semangat. Dalam rangka pameran karya batik klasik/ batik tua dan modern ini, semua karya batik tua tampil dan batik yang kontemporer juga. Batik tua yang dipajang disamping-samping disertai juga penjelasannya mulai diproduksi dan siapa yang memproduksi. hal ini memberi pembelajaran kepada pengunjung untuk mengungkapkan sejarah batik. 


Dengan tampilan/ dekorasi karya CJP (cah juwono pluralitas) ini membuat pengunjung semakin senang melihat-lihat batik khas Juwana. Disamping itu masyarakat, pembatik terlihat gayeng jagong-jagong bersama DPD RI Poppy Dharsono. Obrolan itu tampak tak ada sekat antara pejabat dan rakyat biasa. Berdiskusi dengan gaya lokal ini mempuat Poppy Dharsono ikut bangga dan senang bahwa masih lestari budaya lokal yang ada. Acara ini digelar di pendapa kantor Kecamatan Juwana.

  

  

  

  

 

  

foto AM. Nugroho



Batik Bakaran, Batik Warisan Majapahit


 

KOMPAS.com - Motif batik bakaran sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Sempat tenggelam dan hampir dilupakan. Kini, batik bakaran mulai bergeliat lagi. Saat ini, lebih dari 300 perajin terus melestarikannya. 

Selain motifnya yang unik, batik bakaran juga memiliki kisah sejarah yang erat dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit. Penjaga museum pusaka dan pembuat seragam prajurit dari Kerajaan Majapahit, Nyi Banoewati, menularkan keterampilannya membatik ketika melarikan diri ke daerah Bakaran di Juwana, Pati, Jawa Tengah, pada abad ke-14 Masehi.

Para perajin penerus Nyi Banoewati ini hingga kini fanatik dengan batik tulis. Mereka hanya membuat batik dengan cara tradisional menggunakan canting. Lembaran kain batik bakaran klasik dengan kekhasan corak warna hitam, putih, dan coklat kini makin diminati dan menjadi sumber penghidupan bagi perajin yang mayoritas kaum perempuan.


Yahyu (65), misalnya, sudah belajar membatik dari ibunya sejak tahun 1970-an. Kini, ia memiliki lebih dari 50 karyawan untuk memproduksi batik bakaran. Motif batik bakaran klasik dari Majapahit yang hingga kini masih diproduksi oleh Yahyu antara lain motif batik sekar jagat, padas gempal, magel ati, dan limaran.

Salah satu motif batik unik yang hanya bisa dijumpai di Desa Bakaran Wetan dan Desa Bakaran Kulon ini adalah motif gandrung. Motif gandrung berupa garis-garis saling bersilangan ini melambangkan kegandrungan atau kerinduan terhadap kekasih.

Menurut Yahyu, permintaan batik bakaran ini terus mengalir dari berbagai kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Bogor. Para perajin berharap batik bakaran bisa menembus hingga pasar dunia.


Regenerasi
Tak hanya kaum ibu, generasi muda pun mulai tertarik melestarikan batik bakaran. Heru Tomo (33) mengaku telah belajar membatik dari usia 11 tahun. Kain batik yang dihasilkan Heru dikenal halus dan disukai konsumen. ”Saya khusus membatik untuk batik bakaran motif klasik,” kata Heru.



Saat ditemui dalam acara pameran industri kerajinan rakyat di Departemen Perindustrian, Jakarta, Heru dikerubuti ibu-ibu yang berusaha menawar batik-batik yang dipajangnya. Menurut Heru, ia memamerkan kain batik yang dihasilkan oleh sekitar sepuluh pemuda perajin batik bakaran.

Tetangga Heru, Irham (26), juga berperan besar dalam menghimpun pemuda desa untuk terus menghidupkan batik bakaran dengan membentuk Kelompok Pemuda Peduli Batik Bakaran. Beragam pelatihan cara membatik hingga pengembangan warna batik terus dilakukan. Para pemuda ini aktif terlibat mempromosikan batik bakaran ke pameran-pameran di luar Juwana. Mereka juga memanfaatkan kemudahan akses internet untuk berjualan.

Menurut Irham, corak motif klasik batik bakaran yang terdiri atas warna hitam, putih, dan coklat, mencerminkan karakter warga Bakaran. Warga Bakaran, lanjutnya, selalu punya sikap tegas dalam menghadapi persoalan kehidupan. Hal inilah yang tecermin pada corak warna batik bakaran klasik. ”Dibandingkan batik pesisir lainnya, kami punya karakter berbeda,” ujar Irham.


Teknik pembuatan batik bakaran terdiri atas beberapa tahapan, mulai dari nggirah, nyimplong, ngering, nerusi, nembok, medel, nyolet, mbironi, nyogo, dan nglorod. Warna batik bakaran, menurut Irham, menjadi berbeda karena menggunakan teknik ngerik. Malam yang menempel di kain harus dikerik dengan pisau agar muncul warna coklat soga.

Proses pembuatan batik bakaran ini dilakukan di rumah-rumah warga. Per lembar kain batik membutuhkan waktu pembuatan dari empat hari hingga lebih dari satu bulan. Satu lembar kain batik biasanya dikerjakan 3-4 orang. ”Kami mempertahankan proses pembuatan tradisional, jangan sampai teknik cap atau printing masuk dan diadopsi warga,” kata Irham.

Kain-kain batik klasik biasanya dibuat selama 40 hari dengan kekhasan motif ”retak atau remek”. Kebanyakan perajin memulai dan mengakhiri proses pembuatan batik klasik yang sangat detail dan abstrak pada hari wage dalam penanggalan Jawa yang dipercaya sebagai hari baik. Harga lembaran kain batik bakaran berkisar Rp 300.000 hingga jutaan rupiah.

Untuk meraih minat pasar, perajin batik bakaran juga terus berinovasi. Perajin berinisiatif mengembangkan motif baru dengan warna yang lebih beragam. Motif-motif kontemporer ini antara lain berupa motif kolibri, kedele kecer, pring sedapur, dan merak bambu. Warna kain batik kontemporer sangat beragam, mulai dari hijau, merah, hingga biru. ”Motif kedele kecer ini sangat diminati pasar Jakarta,” kata Yahyu.

 


Bangkit
Batik bakaran, lanjut Yahyu, mulai kembali bergeliat sejak tahun 2006. Lonjakan permintaan terjadi ketika pemerintah daerah mewajibkan seragam batik bagi semua pegawai negeri sipil. Selanjutnya, batik bakaran yang dulu sempat menjadi simbol pakaian kaum priayi ini pun kembali dikenal oleh pasar.

Sebelumnya, pamor batik bakaran sempat pudar karena tak punya wahana untuk berjualan. Perajin hanya berjualan di rumah-rumah dan mengandalkan kunjungan dari konsumen. Perajin juga sempat terbebani tingginya biaya produksi batik tulis.

Saat ini, sebanyak 17 motif batik bakaran sudah dipatenkan. Sebagian dari motif yang sudah dipatenkan itu adalah motif blebak kopi, kopi pecah, gringsing, dan limaran. Motif-motif ini terus dikembangkan oleh perajin dengan menciptakan tambahan motif baru yang menyerupai bunga, ikan, air, dan pohon.

 

(Mawar Kusuma), (http://female.kompas.com/read/2012/01/09/0907545/Batik.Bakaran.Batik.Warisan.Majapahit)




KARATE SHINDOKA PENGCAB PATI GELAR KENAIKAN TINGKAT

 


   

Ternyata minat untuk belajar karate tidak semakin menurun. Terbukti dari peserta yang ikut kenaikan tingkat yang digelar Karate Shindoka kabupaten Pati makin bertambah banyak.  


Sedikitnya ada 300-an peserta Karate Shindoka kabupaten Pati yang hadir untuk mengikuti kenaikan tingkat. Para peserta itu terdiri dari siswa SD sampai SMA. Kenaikan tingkat ini adalah perubahan warna sabuk dari tingkat bawah ke tingkatan yang atas. Kegiatan ini digelar di gedung Haji (IPHI) kecamatan Juwana pada 23/09/12 Minggu pagi. 


Para peserta sebelumnya dites/diuji  dahulu oleh pelatihnya sebelum naik ketingkat yang lebih tinggi. Ujian ini menentukan lulus tidaknya untuk menerima sabuk yang baru. Kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 12.30 wib yang ditutup dengan penghormatan ala Shindoka. 


Orang tuanya pun antusias sekali, menunggui anaknya mulai dari awal hingga akhir. Seperti yang dilakukan Giri dari kecamatan Margoyoso, salah satu orang tua peserta yang mengantar anaknya dari pagi hingga selesai. Menurutnya, anaknya yang berada dibangku SMP itu diikutkan pelatihan Karate untuk  melatih bakatnya dan mencapai prestasi yang lebih baik.


"Saya senang sekali dengan karate ini. Dengan mengikutkan anak saya ke pelatihan ini supaya bakatnya bisa terlatih dan mendapatkan prestasi yang baik. Kemaren juara I tingkat kabupaten. Selain itu untuk menghindari anak dari beberapa kegiatan negatif", tandasnya. (ir ywn)

 



"SILIR ROSO ANGIN GISIK LOR"

GOSEKTONTONAN #9 KECAMATAN DUKUHSETI PATI

 



Gosek tontonan tanpa terasa telah sampai pada putaran yang ke sembilan pada bulan September ini dan akan dilaksanakan di kecamatan Dukuhseti, sebuah kecamatan paling ujung utara kabupaten Pati, terletak di pesisir utara.Thema kali ini adalah”Silir Roso Angin Gisik lor” (Semilir Rasa Angin pesisir Utara red.Indonesia).

Gosek Tontonan akan menyelenggarakan thema Gosek Tontonan # 9 ini ,pada tanggal 29 hari Sabtu di sebuah lapangan bola. Jika Gosek Tontonan yang ke 8 di kecamatan Kayen kemarin sangat menyedot animo masyarakat dan ditonton ribuan peserta tua muda bahkan sampai dipenuhi anak-anak kecil, juga terjadi keajaiban-keajaiban yang menyenangkan, semoga Gosek Tontonan yang ke sembilan inipun akan memunculkan hal yang luar biasa.


Konsep sederhana Gosek Tontonan adalah didasari keprihatinan bersama atas tontonan yang beredar di tengah masyarakat dewasa ini adalah jenis-jenis tontonan asal hingar bingar, pamer pisik belaka, bahkan terjadi arus besar pendangkalan seni budaya, seringkali seni-seni ditunggangi kepentingan-kepentingan politik untuk rebutan kekuasaan, bahkan juga sering kali tontonan tersebut memicu kekerasan publik . Jelas ini adalah suatu hal yang menyedihkan karena keberagaman kesenian dan kekayaan kebudayaan kita menjadi terlihat kering , sempit, miskin kreatifitas dan nampak seragam. Maka Gosek Tontonan digagas dan mencoba mengadirkan jenis kesenian yang “sehat” menurut ukuran budaya dan nurani.


Gosek Tontonan didukung para pelaku seni khususnya yang muda antar kecamatan yang telah muncul kesepakatan untuk bergotong-royong menghadirkannya secara bulanan dan berkeliling secara bergilirian di tiap kecamatan di wilayah kabupaten Pati, sehingga terbentuk jalinan kerja kebudayaan di seluruh kabupaten Pati. Untuk ini Gosek Tontonan bisa dikatakan sebagai fungsi menghubungkan atau rousliting.

Gosek Tontonan disamping membuat jaringan kerja kebudayaan antar kecamatan di kabupaten Pati juga berfungsi sebagai “ mata” untuk mencoba mendata berbagai kesenian yang pernah atau masih hidup di sebuah kecamatan untuk dihadirkan kembali sehingga tetap menjaga ingatan komunal masyaraka bahwa kita semua mempunyai berbagai kekayaan seni budaya dan menularkan ingatan kebudayaan ini kepada mereka yang lebih muda. Kebanggaan-kebanggaan kecil tetang kehadiran kreatifitas budaya mereka ini tentu merupakan energi besar untuk menciptakan sebuah kebanggaan lokal tetang rasa memilki konten-konten kebudayaan. Kebanggan masyarakat ini sangat penting karena Bangsa Indonesia ini masih bisa menegakkan kepala juga karena seni budaya.

Terus terang....Gosek Tontonan hadir karena kemauan gotong royong. segala sesuatu menyangkut teknis penyelanggaraan dipikul bersama bahkan sampai persoalan pendanaan, karena seluruh warga Gosek Tontonan tidak nyaman dengan adanya sponsor bersifat komersial karena akan menimbulkan banyak persoalan nantinya. Seluruh pertunjukan-pertunjukan yang tergelar juga bebas biaya dan bersifat sumbangan dari personal ataupun kelompok.

Gosek Tontonan # 9 akan dilaksanan tangal 29 Septembet ini berisi materi yang sudah terdata yaitu antara lain: 

-pagi : - Lomba mengambar atau mewarnai tokoh wayang.
- Lomba panjat pinang.

-Sore : - Pertunjukan Barongan.
-Pertunjukan seni bela diri tradisional Pencak Pencik atau Ncik.

-Malam : -Pertunjukan musik lagu Thong thongklek.
-Pertunjukan tari tradisional Mandailing.
-Pertunjukan seni tradisi Kenthrung.
- Pertunjukan seni tari tradisi gambyong.
-pembacaan puisi,geguritan,musikalisasi puisi,performen art dll.

*Menu tambahan : Pameran seni rupa dan seni bonsai, lapak sablon,workshop kerajinan daur ulang.

“SILIR ROSO ANGIN GISIK LOR”..... Semoga tergelar...dan menjadi berkah kebudayaan untuk kabupaten Pati.
Salam Budaya (Imam Bucah-Warga Gosek Tontonan Pati)


PAWAI PERINGATAN HAUL LELUHUR

 


Kamis siang 30/8/2012 desa Langgenharjo dipadati banyak pengunjung dari berbagai daerah. Siang itu pengunjung bersenang ria menonton  karnafal / pawai yang digelar panitia haul Mbah Sholeh dan Masyayeh. Karnafal dimeriahkan warga dengan beberapa bentuk kesenian mulai dari drumband, rebana, tongtek, dan lain sebagainya.


Selain itu semua siswa-siswi Madrasah Mathaliul Falah ikut tampil dari jenjang RA, MI, MTs., MA, Madin. Kegiatan ini memperingati sang leluhur penyebar agama Islam di Juwana khususnya di desa Langgenharjo. Yakni KH. Sholihul Munawwar yang hidup di akhir abad 18 M dan seluruh masyayeh desa. Puncak acara peringatan adalah pengajian akbar pada Sabtu malam Ahad 1/9/12  yang kan dihadiri KH. Ubaidillah Faqih Langitan Tuban Jawa Timur pukul 19.30 wib sampai selesai.


   

       

       

        



SYAWALAN SEDEKAH LAUT DAN HAUL MBAH SHOLEH AL-MUNAWWAR



Hari raya Idul Fitri merupakan momentum yang sangat berarti bagi warga Juwana. Warga memanfaatkan sesuai kepentingannya, bertemu keluarga, bersilaturahmi, berlibur, bersenang ria dll. Yang menjadi rutinan dan tidak bisa ditinggalkan oleh warga adalah kegiatan sedekah laut atau masyarakat menyebutnya lomban yang disusul juga haul Mbah Sholeh. Biasanya Aktifitas kerja warga mulai aktif setelah kegiatan tersebut.

         

Sedekah lauadalah tradisi tahunan yang dilaksanakan sepekan setelah lebaran sebagai perwujudan rasa syukur dan permohonan keselamatan warga nelayan saat akan melaut lagi. Tepatnya akan dilaksakan pada Minggu pagi, 26 Agustus 2012 ini. Yaitu dengan melarung sesaji kemuara laut. Sebelumnya sesaji itu diarak bersama warga keliling didesa nelayan Bajomulyo dan Bendar pukul 08.00 sampai selesai. Kemudian sebelum pemberangkatan sesaji kelaut dilaksanakan upacara di pelabuhan unit II yang akan dihadiri oleh Bupati Pati beserta jajaranya dan Muspika Juwana. Semua masyarakat ikut terlibat disini. 


Setelah Sedekah laut disusul kegiatan besar juga yakni haul Mbah Sholeh al-Munawwar. Mbah Sholeh yang sebagai salah satu Ulama' ternama di akhir abad 18 M yang pernah ada di Juwana yang menyebarkan agama Islam. Tepatnya berada didesa Langgenharjo. Didesa inilah perkembangan agama Islam nampak dan masih bisa dirasakan sampai sekarang dengan adanya  lembaga pendidikan agama yang makin tumbuh besar. Semua jenjang pendidikan ada mulai dari Pondok Pesantren, Madrasah yang terdiri dari RA, MI, MTs., MA, dan MADIN. Diantara yang menjadi peninggalanya adalah masjid al-munawwar.


Warga memperingati haul ini dengan mengadakan beberapa kegiatan. Adapun jadwal kegiatan atau haul Almagfurlahum KH. Sholihul Munawaar, K. Anas Sholih, dan Masyayeh kec. Juwana tahun 2012 sebagai berikut :


1. Sholawat Burdah bersama pada Sabtu malam Ahad 25 Agustus M/ 7 Syawal 1433 H. Pukul 19.30 wib di Maqbaroh desa Langgenharjo

2. Tahtimul Qur'an Binnadhor dan Bahsul Masail agama dan sosial pada Ahad, 26 Agustus 2012 di Masjid Al-Munawwar desa Langgenharjo. Diikuti Ulama' setempat, pengurus Syuriyah MWC NU Juwana dan ranting se kec. Juwana, alumni santri Sarang yang tergabung dalam PASSTI, dan masyarakat sekitar.

3. Tahtimul Qur'an Bilghoib pada Kamis, 30 Agustus 2012 dimulai pukul 07.00 wib di masjid al-Munawwar seluruh Huffad kabupaten Pati

4. Karnafal budaya, pada 30 Agustus 2012 M mulai pukul 14.00-17.00wib. Rute, Kincir Kulon-Masjid al-Munawwar-Pasar Selok-Langgen Templek-Masjid al-Munawwar (finish). Peserta siswa-siswi TPQ, MI, MTs., MA, jamaah mushola dan masyarakat Juwana.

5. Pengajian dan tahlil umum Muslimat pada hari Jumat, 31 Agustus 2012 M pukul 14.00-17.00 wib di maqbaroh desa Langgenharjo peserta seluruh Muslimat dan fatayat se Kec. Juwana dan sekitarnya.

6. Ziarah kubur dan tahlil umum pada Sabtu, 1  September 2012 pukul 15.00-17.30 wib di maqbaroh desa Langgenharjo yang dihadiri KH. Ah. Nafi' Abdillah dari Kajen, KH. Thpyyib Daiman dari Waturoyo dan ulama setempat.

7. Pengajian umum pada Sabtu malam Ahad, 1 September 2012 M pukul 19.30 sampai selesai di halaman pondok pesantren al-Munawwar pembicara KH. Ubaidillah Faqih pengasuh ponpes Langitan Tuban Jawa Timur.


 

KOMUNITAS VESPA JUWANA BAGI-BAGI TAKJIL


 

Umumnya untuk memperingati kegiatan 17-an agustus sebagai hari ulang tahun proklamasi Indonesia dengan mengikuti kegiatan upacara bendera. Bersamaan dengan ini para pecinta dan pemilik-pemilik vespa yang tergabung dalam komunitas vespa Juwana ini memperingati dengan cara yang berbeda, yakni dengan menggelar kegiatan bagi-bagi takjil buka puasa. Kegiatan ini bersamaan dengan upacara penurunan bendera di Alun-alun Juwana.


Bagi-bagi takjil diberikan secara cuma-cuma kepada siapa saja yang berbuka puasa di sekitar masjid besar Juwana dan alun-alun kepada para pengendara yang lewat di jalur ini. Bagi-bagi takjil buka puasa dalam bentuk kolak ini di mulai dari jam 16.30 hingga magrib. Kegiatan ini dilasanakan hampir setiap tahun.

           

          

           

 


MELIHAT REALITAS SOSIAL DENGAN BAGI-BAGI TAKJIL

 



Siswa-siswi kelompok bermain di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) Bismilah Bakaran Kulon juwana pada 11/8/12 telah melakukan kegiatan belajar diluar yang berbasis masyarakat. Kegiatan ini tidak seperti biasanya yang dilakukan berada dilingkungan sekolah. Hal ini dilaksanakan karena untuk pembelajaran langsung yang berbasis sosial dan melatih mental dan kejiwaan anak. Yakni bagi-bagi takjil zakat fitrah. Dalam kegiatan ini ada beberapa pelajaran yang dipetik oleh siswa yaitu mulai dari kesadaran untuk berzakat, bersedekah, dan juga bisa melihat secara langsung kenyataan masyarakat. 


Zakat yang berasal dari siswa-siswi ini langsung diserahkan kepada yang berhak dari tetangga sekolah. Disalurkan dengan langsung berjalan kaki mengunjungi dari rumah-kerumah orang-orang yang sudah terdata. Orang yang menerima zakatan ini adalah kebanykan orang jompo dan yang sudah tua tua.


Anak-anak dengan senang riaa  yang juga didampingi oleh wali muridnya merasa ingin tahu mengenahi kehidupan mereka para orang jompo. Sehingga bisa membangkitkan dan merangsang kecerdasan emosionalnya.


Memang sekolah ini didirikan atas keprihatinan terhadap kenyataan yang secara umum sekolah-sekolah hanya mengutamakan kecerdasan intelektual murid saja sehingga kegiatan-kegiatan berbasis sosial, spiritual, alam sekitar terlupakan. Menurut Suyat  salah satu ustazdah, mengatakan PAUD ini konsepnya selain agamis juga berbasis alam, maritim, dan sosial yang tetap mengacu local wisdom masyarakat Juwana. "Jadi kurikulumnya ini disetting tidak seperti PAUD yang selama ini ada", jelasnya.

  

     

 

 

SUNAN NGERANG JEJAK SEJARAH YANG TERTINGGAL

 



Juwana sebagai daerah kota kecamatan yang juga dilalui jalur pantura selintas dilihat sebagai kota industri kecil, dan daerah pesisir. Namun disisi lain terkandung nilai sejarah sangat tinggi, tradisi lokalnya sangat kuat dan masih banyak lagi peninggalan-peninggalan kuna yang masih ada. Diantara nilai sejarah yang pernah ada dan masih membekas, dikenang  masyarakat di kota ini adalah jejak  Sunan Ngerang yang dalam cerita sebagai guru dari Sunan Muria.

   

Ada dua desa dimana masyarakat ini menganggap sebagai makam sunan Ngerang. Yang pertama di desa Trimulyo dikenal masyarakat dengan sebutan desa Ngerang dengan dibuktikan 1 makam. Dan yang kedua di desa Pekuwon dengan adanya Makam Sentono. Walaupun masih ada perbedaan pendapat hal ini tidak menjadikan persoalan penting malah memperbanyak khasanah sejarah lokal. Di makam ini banyak makam-makam tokoh yang ada dalam cerita di Juwana, seperti Maling Kapa, Maling Kentiri, Bupati Paranggarudo, Jaka Pakuwon, Salah satu Bupati Juwana Kanjeng Suro Wikromo dan lain sebagainya.

  

Desa Pekuwon yang berada di sebelah timur kota Juwana ini menyimpan sejarah besar terkait dengan  Sunan Ngerang. Di desa ini ada sebuah komplek pemakaman kuna yang terpampang juga tulisan “SUAKA PURBAKALA MAKAM SENTONO NO : 238/ 1931”. Dilihat dari nisan-nisanya yang ada merupakan batu-batuan terpahat jaman kerajaan Demak bintoro.

Dulu semasa hidup Sunan Ngerang,  desa ini sebagai tempat berkumpulnya para santri menuntut ilmu. Dan setelah merakapun  wafat  juga tetap berkumpul disini. Seperti yang disebut dalam buku “Sejarah perjuangan Sunan Ngerang”  yang ditulis oleh Dyan Achsin nama asli dari sunan Ngerang adalah Syeh Muhammad Nurul Yaqin. Sunan Ngerang ini mepunyai silsilah dari Sastroloyo, Trowulan, Mojokerto-Jatim.

     

 

Asal mula kedatangan Sunan Ngerang di daerah ini adalah saat kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan atau kehancuran yang disusul  berdirinya kerajaan Islam Demak Bintoro. Kedatangan beliau ini atas tugas dari Sunan Kali Jaga untuk menduduki posko di Ngerang. Tugas beliau sebagai muballig dan harus menjaga keamanan daerah perbatasan dan pantai utara. Hingga akhirnya Beliau bersama keluar menetap didesa Ngerang  dan mendirkan padepokan yang Beliau Bangun di desa Pekuwon menjadi masyhur. Beliaupun sebagai Maha Gurunya disebut sebagai Sunan Ngerang.

 

Ada beberapa peninggalan yang masih dikenang oleh masyarakat dan bisa dikunjungi diantarnya, sawah padasan berada diantara 300m sebelah utara komplek Makam Sentono. Selanjutnya ada Sawah sekolahan persis sebelah utara Makam ada bidang-bidang sawah yang sebagai pusat pendidikan Sunan Ngerang mengajarkan ilmu-ilmunya.  Ada juga tambak Krapyak, Sawah Kalangan yang dalam cerita rakyat salah satu dari kapal dagang china yang berlabuh di sungai Silugonggo, sang Dampu Awang (juragan kapal) bersama anak buahnya telah kalah beradu ayam dengan pihaknya Sunan Ngerang di tempat ini dan akhirnya bertobat dan berguru dengan Beliau.

                      

 

Diantaranya lagi adalah 4 buah umpak batu. Umpak batu ini merupakan bukti adanya rencana pembangunan masjid yang gagal akibat adanya kemelut-kemelut dalam pernikahan Sunan Muria dengan dewi Roroyono, Kapa menjadi Adipati Buntar, Hilangnya Roropujiwat.

 

Selain karena peristiwa-peristiwa tersebut ada faktor politis gagalnya pembangunan masjid yaitu saat kerajaan Demak Bintoro mengalami kegalauan.  Karena pada saat perencanaan pembangunan masjid bertepatan dengan pengerahan armada perang yang sangat besar menuju ke Malaka. Sudah barang pasti murid-murid Sunan Ngerang yang menjadi pejabat harus meningkatkan perhatian  demi keamanan dan kesejahteraan masyarakat didaerah masing-masing dari serbuan penjahat. Apalagi armada perang yang dipimpin Adipati Unus itu gagal mengusir Portugis. Kalah perang mengakibatkan pajak dari daerah-daerah harus dinaikkan.

                             

Kemudin Raden Fattah wafat, Adipati Unus naik tahta dan menjadi Raja yang pada saat itu Syeh Muhammad Nurul Yaqin sudah tua. Saat Adipati unus wafat kerajaan Demak menjadi galau perebutan tahta mengakibatkan perang saudara antara Trenggana dengan Adipati Jipang Panolan. Setelah P. Trenggana menjadi sultan kemudian wafat muncul kembali perang saudara antara Jaka Tingkir dengan Arya Penangsang . Galau kerajaan berdampak kacaunya daerah-daerah kekuasaan termasuk Ngerang dan sekitarnya hingga mengakibatkan batalnya rencana pembangunan masjid.

Makam ini tidak sepi orang, karena banyak dikunjungi dan diziarahi masyarakat sekitar. Disamping itu banyak kalangan sejarawan, pecinta sejarah, akademisi hadir dalam angka studi sejarah. Masyarakat memperingati Sunan Ngerang/ haulnya pada bulan Muharram dengan mengadakan beberapa kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. (Irham - Sumber : Buku Sejarah Perjuangan Sunan Ngerang Syeh Muhammad Nurul Yaqin ditulis oleh Dyan Achsin)


LAPAK SENI GELAR BUDAYA MALEM 15 - san


Malam itu terasa berbeda seperti malam-malam biasanya, yakni malam nisyfu sya'ban. Berbagai kegiatan keagamaan dan budaya banyak mewarnainya. Sabanan salah satunya, merupakan tradisi tahunan yang ada di Juwana. Seperti halnya tradisi Dug-deran di Semarang, Dandangan yang ada di Kudus dan lainnya. Semua itu adalah tradisi lokal sebagai pertautan antara agama dan budaya. Banyak tontonan meramaikanya seperti pasar malam.

    

Nisyfu  Sya'ban (malem 15 san Sya'ban) ini adalah malam puncaknya Sabanan. Oleh kelompok seniman Juwana, tepat Rebo Wage Malem Kemis Kliwon 4/7, malam ini dipakai untuk unjuk kreatifitas dengan menggelar kegiatan seni, budaya dan sastra yang diberi nama "Lapak Seni Malem 15-san" (ajang ngumpul lintas komunitas).

  

Kegiatan seni budaya ini sangat sederhana namun mampu membuat malam yang bisa menghilangkan rasa kepenatan. Digelar disebelah jembatan lama (kreteg lawas) yang telah dibongkar. Dengan properti seadanya, tanpa panggung, listrik dari tetangga sekitar, sond bawa dari rumah, biaya bersama tidak bentuk uang tapi dalam bentuk barang. Dengan prinsip kemandirian dan sama rata, tidak ada kaya tidak ada pangkat. Kegiatan mulai baca puisi, pentas musik, pentas lamporan, bantingan, bersandiwara dan sebagainya yang sebelumnya diawali makan bersama ala tradisi jaman dahulu.

       

                   

Lintas komunitas artinya tidak hanya 1 komunitas saja yang ikut meramaikanya. Terdiri dari komunitas musik, komunitas vespa, komunitas motor King, komunitas sepeda, pelukis dan sebagainya yang tergabung dalam Cah Juwono Pluralitas. Tidak hanya seniman Juwana saja yang hadir, tetangga kecamatan pun ikut tampil seperti seniman kecamatan Margoyoso, Gabus, Pati, dll. Semuanya menampilkan karyanya masing-masing.

    

Tujuan yang sederhana adalah kemandirian dalam berekspresi dan memberikan wadah untuk berkarya dan unjuk kreatifitas. Menarik, asyik, dan senang tidak harus mahal kapan pun dan dimanapun bisa ditempuh. Lapak seni menjadi media dalam beraktualisasi di malem 15-san. (Ir)



 

STASIUN TUA JUWANA SEBUAH NILAI SEJARAH


     Pada bagian depan dari stasiun tua yang sudah tak beroperasi ini terpasang papan peringatan bahwa bangunan ini adalah cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang dan berada di bawah pengawasan PT Kereta Api (Persero) – Daerah Operasi 4 Semarang. Artinya PT Kereta Api memiliki kesadaran bahwa bangunan tua ini harus dilindungi. Hal ini cukup penting untuk pelestarian bangunan ini. Bangunan tua ini terletak di sisi selatan dari Jalan Raya Pantai Utara, beberapa ratus meter dari alun-alun Juwana. Di jalan mengarah ke pelabuhan Juwana, masih tersisa rel kereta api yangtertanam di tanah, menghubungkan stasiun dengan pelabuhan Juwana.  

   

Stasiun tua Juwana berdiri di lahan pertanahan yang cukup luas milik PT Kereta Api, yang juga didiami oleh ratusan warga umum dengan status pengontrak pada PT Kereta Api. Sebagian dari wilayah itu, terutama lokasi dimana stasiun itu berada, terletak di RT 02 dengan ketua RT bapak Maryoto. Untuk mengurus uang kontrak tersebut ditugaskanlah seorang karyawan PT Kereta Api bernama bapak Wartono. Beliau mulai berdinas di situ pada tahun 1991, ketika stasiun telah ditutup. Beliau mulai berdinas di PJKA (nama lama PT Kereta Api) tahun 1952. Menurut beliau sejak Stasiun ditutup banyak bagian dari stasiun yang dijarah oleh orang-orang tak dikenal. Dari beliaulah didapat informasi bahwa mantan Kepala Stasiun Juwana, bapak Sukadi, tinggal tidak jauh dari rumah beliau.

Bapak Sukadi adalah mantan Kepala Stasiun Juwana yang terakhir, yaitu dari tahun 1979 – 1986. Menurut bapak Sukadi pada tahun sebelum ditutup, stasiun ini masih melayani jalur Rembang – Semarang. Jalur itu dilayani oleh lokomotif diesel berukuran kecil, karena merupakan lintasan pendek. Pada tahun 1986 itulah Stasiun Juwana berhenti beroperasi. Kini kondisinya bangunan yang terbuat dari kayu, masih cukup baik. Sayangnya di bagian bawah, selain besi rel dan batu peron sudah tak ada, beberapa bangunan sudah tak terawat, bahkan beberapa bagian telah dibongkar.

  

 

Kini di stasiun itu warga memanfaatkan sebagai tempat parkir dan tempat bermain bulu tangkis. Menurut keterangan stasiun ini menjadi tempat mengungsi bagi warga sekitar apabila rumahnya terkena musibah banjir yang kadang melanda daerah sekitarnya. Hal ini karena tanah dimana stasiun itu berdiri cukup tinggi sehingga tidak terkena banjir. Sementara di bekas ruang Kepala Stasiun digunakan untuk ruang kelas bagi sebuah playgroup (pendidikan anak usia dini - PAUD) milik kelurahan. Di bagian belakang dari kelas, terdapat dua buah ruang yang ditempati oleh dua keluarga.


Selain bangunan secara fisik, aset lain yang sangat berharga yang masih tersisa di salah satu ruangan dari stasiun Juwana adalah lemari besi peninggalan jaman Belanda yang berukuran besar. Tim Juwana Project berharap agar lemari besi itu dapat dirawat dan dipertahankan di stasiun Juwana dalam ruangan yang khusus disterilkan. Namun apabila hal itu tak memungkinkan alternatif keduanya adalah mengamankan lemari besi itu ke Stasiun Bandung.

     

Dari penelusuran tentang sejarah stasiun Juwana (dulunya Joana) itu, akhirnya dari seorang pencinta kereta api Indonesia, Deddy Herlambang, ditemukan hasil penelitian dan penulisannya. Berikut di bawah ini adalah salinan dari tulisan Deddy Herlambang, dengan sedikit penyuntingan:

Stasiun Juana adalah milik Samarang - Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) perusahaan swasta era Hindia-Belanda. Stasiun Joana (sekarang Juwana) ini mulai dibangun tahun 1884, diperbarui 1910 dengan material kayu jati untuk overcaping nya. Stasiun ini berada dilintas antara stasiun Pati dan Blora. Langgam bentuk stasiun SJS ini adalah 1 tipikal, bisa dilihat kesamaan ciri dari stasiun PatiJuana-Blora-Rembang-lasem-Cepu kota (bukan Cepu sekarang). Stasiun berhenti beroperasi sesuai ditutupnya lintas ini tahun 1986. SJS ini bukan merupakan lintas kereta api cepat namun kereta api bergandar rendah atau biasa disebut trem. Maka lokomotif dan keretanya kecil-kecil yang kecepatannya tidak bisa lebih dari 50 km per jam. Ukuran rel nya juga kecil, digunakan standar trem R25.

  

Dahulu kereta2 SJS digunakan untuk mengangkut penumpang pedesaan ditiap-tiap desa sambil menuju Semarang, hampir tiap desa dilalui oleh rel SJS. Saat kita merdeka lintas SJS diambil oleh RI menjadi milik DKA/PNKA/PJKA menjadi wilayah PNKA inspeksi 7 berkantor di Semarang. Tahun 1986 lintas ini ditutup karena tidak mampu bersaing dengan angkutan darat pedesaan saat itu, angkutan pedesaan dikuasai COLT 120 buatan Mitsubishi. Kantornya sendiri inspeksi 7 telah ditutup di Semarang tahun 1974, digabung dengan inspeksi 5 juga berkantor di Semarang juga. (Hasil Observasi Tim Juwana Project)



FILOSOFI BATIK BAKARAN JUWANA


Batik bukan sekedar kain semata yang tergambar motif. Namun ada kandungan makna yang tinggi dibalik itu semua. Cara membuatnya pun tidak hanya sekedar membuat. Seperti halnya cerita batik tulis Juwana. Menurut cerita, dulu pembatik di Juwana ini sebelum membuat motif melakukan ritualan dulu, ada yang puasa, ada yang 'semedi' dan lain sebagainya sehingga menemukan sebuah gambaran motif. Ini di antara beberapa motif klasik Batik Tulis Bakaran Juwana yang sekarang masik eksis di akhir kerajaan Majapahit hingga sekarang, dan sebagian sudah ada yang didaftarkan ke Ditjen HAKI.

 

Beberapa motif batik yang ditinggalkan nenek moyang, dan berikut cerita makna yang terkandung. Cerita ini di gali dari berbagai sumber dan cerita rakyat setempat :

1.Gandrung

Motif ini dalam cerita belum sempurna, karena dalam menggaris-garis kedatangan sang kekasih. Diyakini bahwa motif ini asli dari sang Nyi Ageng nenek moyang batik Juwana yang saat itu sedang mempunyai rasa rindu keluarga dan sang kekasih. Motif gandrung ini cocok dipakai anak muda dan gadis atau yang sedang mempunyai rasa cinta dan rindu sebagai simbul rasa kerinduannya.

2. Padas Gempal

Padas artinya batu karang, gempal artinya gumpalan. Padas gempal artinya gumpalan batu-batu karang. Istilah padas gempal adalah istilah pesisir motifnya mirip dengan motif Sekar Jagad tapi ada perbedaan bentuk motif. Bentuk motifnya berbeda-beda hampir-hampir semua motif nusantara tertuang dalam padas gempal. Hal ini menunjukkan sebuah keragaman yang ada yang patut untuk dikembangkan dan di jaga. Salah satu pesan yang disampaikan adalah bentuk pluralitas yang harus dikembangkan dan dijaga. Motif ini dipakai oleh orang-orang tua.

3. Liris

Liris atau bisa disebut udan liris mengandung makna hujan rintik-rintik, motif ini biasa dipakai kaum remaja. Motif  udan liris mengajarkan kepada kita generasi penerus bangsa untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ikhtiar mencari rejeki. Halangan dan rintangan bukan menjadi kendala, tetapi justru sebaliknya bisa menjadikan pemicu untuk mencapai hasil yang jauh lebih baik.

4. Manggaran

Berasal dari kata manggar atau bunga kelapa. Kelapa adalah salah satu tumbuhan yang bisa hidup dimana saja, dan semua apa yang ada pada kelapa bermanfaat tidak terbuang sia-sia. Mengandung ajaran supaya hidup bisa seperti kelapa, selalu bermanfaat kepada siapa saja dan bisa hidup dimana saja cepat beradaptasi. Motif ini untuk pakaian bebas.

5. Blebak Lung

Blebak (latar putih dengan pecahan / retakan warna soga). Lung  artinya pohon ubi jalar. Mengandung arti tak putus-putusnya. Harapannya adalah mendapatkan rizki yang tak putus-putus. Dipakai untuk kalangan bebas usia dan acara umum.

6. Blebak Urang (blebak iwak)

Menggambarkan habitat udang. Masyarakat Juwana yang merupakan masyarakat pantai penghasil ikan. Disimbolkan urang (udang) karena masyarakat juwana banyak  yang menjadi petani tambak yang memelihara udang, ikan bandeng dsb. Selain itu menunjukkan sebagai sumber penghasilannya dan sumber penghidupan masyarakat pesisir Juwana.

7. Blebak kopik

Kopik dalam bahasa Jawa artinya kartu. Dalam kartu ada sesuatu yang dirahasikan. Hal ini menyangkut sebuah siasat/ strategi untuk menjadi yang terbaik/ yang terdepan.

8. Sido Mukti, Sido artinya menjadi, mukti artinya mulia atau terhormat. Motif ini juga untuk upacara manten yang khusus dipakai mempelai berdua, artinya kelak nanti menjadi orang-orang yang mulia dan bermanfaat. Motif Sido-Mukti  biasanya dipakai oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan, dinamakan juga sebagai Sawitan (sepasang).Sido berarti terus menerus atau menjadi dan mukti berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan. jadi dapat disimpulkan motif ini melambangkan harapan akan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan unuk kedua mempelai.

9. Rawan

Rawan dari kata rowo, digambarkan sebagai ombak rawa bersama tumbuhan. Motif ini biasa dipakai oleh orang-orang yang sudah punya anak

10. Sido Rukun

Sido maknanya menjadi, rukun maknanya damai. Artinya menjadi damai. Motif ini dipakai untuk kedua manten setelah sepasar/ 5 hari setelah upacara pernikahan.

11. Kopi pecah

Menggambarkan sebuah kopi yang terkelupas. Motif ini dipakai untuk pakaian bebas.

12. Truntum

Dimaknai sebagi tuntunan atau contoh (teladan). Motif ini biasa dipakai kepada kedua orang tua mempelai pada aupacara pernikahan.

13. LimaranLimaran dari kata samaran atau samar-samar

 14. Kedele kecer

Menggambarkan kedele yang tercecer dari tempatnya. Simbol dari kesejahteraan masyaraakat. Mendapatkan rizki yang melimpah. Berharap yang memakai ini nanti mendapatkan rizki yang banyak. Dipakai oleh semua umur.

15. Gringsing

Gringsing adalah motif sisik ikan. Merupakan hiasan sisik-sisik ikan. Pada Gringsing  ini motifnya semua berisi atau penuh, tidak ada bagian kain yang kosong. Simbol dari sebuah keindahan dan ketelitian oleh masyarakat pantai pesisir.

16. Nam Tikar

Menggambarkan anyaman tikar. Menggambarkan sebuah aktifitas orang kampung yang penghidupannya dari kerajinan. Menunjukkan sebuah kreatifitas dan selalu telaten, sabar.

17. Ungker Cantel

Motif ini menggambarkan untaian mata kail yang saling berkaitan satu sama lain  (gotong royong) dipakai untuk pakaian bebas.

18. Bregat ireng

Bregat artinya pohon besar, ireng artinya keadaan gelap (suasana sedih). Motif ini khusus dipakai saat lelayu/ takjiyah

19. Satrio, Sarung Satriyo (latar ukel romo) Pola Satriya Wibawa, dipakai oleh calon pengantin pria pada saat upacara midodareni  malam sebelum akad nikah esok harinya. Sebagai serah terima kedua mempelai pengantin, pengantin putri memberikan sarung satriokepada pengantin laki-laki. Harapan yang terkandung adalah agar kelak menjadi suami yang berwibawa dan pelindung yang penuh tanggung jawab. Menjadi suami yang kesatria.

20. Kawung. Bentuk dasarnya adalah oval yang hampir menyentuh satu sama lain secara simetris . Kawung (buah aren) sebagai penghasil gula yang menyimbulkan rasa manis, memiliki filosofi keagungan dan kebijaksanaan yang tinggi. Pohon yang lurus tanpa cabang menyimbolkan kejujuran dan kedisiplinan.

21. Magel Ati ,  Motif ini kotak-kotak simetris dan ditengahnya ada cecekan silang.

Bentuk cecekan silang merupakan simbol dari hal yang salah, artinya ada sebuah gejala sosial yang salah kaprah pada saat itu, tapi masih di Ugemi oleh masyarakat. Hal ini bentuk pengingatan sang nenek moyang (pembatik) dalam mensikapi persoalan sosial.
Bentuk motif kotak,/ ter·ko·tak-ko·tak terbagi-bagi; terpisah-pisah; terpecah-pecah mengandung sebuah maksud : kaum muda hendaknya jangan berjuang secara terpecah-pecah, sebab hasilnya tidak baik.  Me·ngo·tak-ngo·tak·kan  membuat batas-batas lingkungan sehingga yg satu dengan  yang lain terpisah; memecah-belah (golongan, kelompok, dsb)
Magel Ati (megelke ati),: (menyakitkan hati), (hati merasa kesal) ini secara bahasa maksud dari nama motif ini.
menggambarkan sebuah sikap tidak suka terhadap sebuah persoalan pada saat itu. Motif ini tidak diketahui kapan diciptakan. Yang jelas sudah turun temurun dari nenek moyang.  

22. Merak Ngigel, Motif ini bagian dari motif  binatang. Motif-motif pesisiran yang berbentuk flora dan fauna menyimbolkan perasaan atau ketertarikan tertentu dari pendesainya. Motif batik ini menggambarkan seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya secara penuh untuk  menunjukkan keindahannya. Pola ini terinspirasi perilaku burung merak ketika menarik pasangannya. Motif ini menyimbulkan keinndahan, dan semangat menggapai tujuan. Motif utama menggambarkan burung merak yang sedang termangu atau termenung karena sendirian. Motif ini melambangkan proses permenungan atau hakikat keindahan.

23. Ladrang, Motif ini adalah dengan pola parang yang lebih halus dengan ukuran yang lebih kecil dan mengandung citra feminism. Ladrang ini menyimbulkan kelemah lembutan, perilaku halus dan bijaksana.

24. Motif Onto Bugo (Nogo)

Naga adalah simbul dari sebuah power besar/ kekuatan dan kekuasaan. Naga simbol sebagai binatang yang paling kuat.  Naga atau Lung melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian, pendirian teguh. Naga juga merupakan lambang kewaspadaan dan keamanan. Dari semua makhluk mitologi China, Naga merupakan makhluk yang tertinggi dan menjadi raja semua hewan di alam semesta.

25.  Gunung-gunungan Pemahaman sederhana gunung-gungungan adalah sebuah gunung tapi tidak seperti gambar gunung yang sebenarnya, karena hanya mengambil simbol. Batik klasik ini dengan corak hitam, putih dan cokelat merupakan asli motif Juwana. Masyarakat pembatik menamainya motif gunung-gunungan. Gambarnya lereng dari bawah ke atas. Komponen motifnya terdiri dari kembang sulur, ada burung, ungker, cecek (penghuni gunung).

Motif gunungan ini mengandung filosofi kehidupan yang dalam. Dengan mengambil simbol sebuah  gunung melambangkan sebuah kebesaran. Gunung yang merupakan bagian makhluk Tuhan yang mempunyai manfaat besar dalam kehidupan manusia. Gunung menggambarkan keaadaan yang tenang dan sejuk. Terkadang orang yang sering mengunjungi  gunung tingkat kesadarannya akan menghargai dan memelihara alam lebih tinggi di banding mereka yang tinggal di gemerlapnya dunia kota. Puncak gunung adalah tujuan para pendaki. Puncak gunung ini di gambarkan sebuah fokus yang harus dicapai. Dan setelah mencapainya akan merasa terkagum atas keindahannya. Hal itu mengingatkan pada kita semua bahwa untuk mencapai ke puncak itu membutuhkan perjuangan yang hebat dan beberapa pengorbanan, usaha dan tekad yang kuat. Gunung bisa mengilhami kepada dia yang mengunjunginya. Gunung berbentuk besar dan menjulang tinggi. Hal itu juga menyiratkan kita sebuah keinginan luhur. Semua orang pasti menginginkan kehidupannya terus menanjak seperti gunung. Namun untuk mencapai itu semua memerlukan usaha yang keras dan sungguh. (Irham Yuwanamu)

 

PAMERAN BATIK JUWANA di DEKRANAS JAKARTA
Batik bakaran Juwana displai pruduk hand made pada pameran yang diselenggarakan oleh Dekranas pusat pada 12-15 Juni 2012 di gedung kementerian Perindustrian jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan. Pameran ini telah di buka oleh Ketua Umumnya Ibu Wakil Presiden pada 12 Juni pukul 10.00 wib. Berbagai produk  lawasan klasik dan yang terkini di tampilkan untuk memperkenalkan budaya batik Juwana yang memang sudah sudah tua dan merakyat.




GELAR 40 TAHUN KARYA ASMORO DAMAIS

Musium Tekstil yang tempatnya berada di Jl. Aipda K.S Tubun No. 2 – 4 Jakarta Pusat merupakan lembaga edukatif kultural. Diantara misinya adalah melestarikan budaya tekstil tradisional Indonesia. Dimusium inilah berbagai kegiatan diprogramkan salah satunya yang saat ini sedang digelar adalah pameran dengan tema “5 Windhu karya Asmoro Damais”.


Siapa yang tidak kenal dengan Asmoro Damais, hampir semua pegiat, pecinta, kolektor batik, maupun tekstil mengenalnya. Menurut catatan Indra Riawan, Kepala Musium Tekstil dalam pengantarnya “5 Windhu karya Asmoro Damais”, bahwa Asmoro Damais sebagai sosok yang tak dapat terlepas dari perkembangan tekstil tradisional di Indonesia khususnya batik.”Kiprahnya dalam pengembangan Musium Tekstil Jakarta pun menjadi catatan selama saya memimpin musium Tekstil juga pada periode kepemimpinanya sebelumnya. Ide, gagasan, kritik dan saranya yang membangun menjadi bagian dari percikan api penyemangat unuk menjadikan Musium Tekstil Jakarta lebih eksis sebagai jendela budaya tekstil tradisional Indonesia dan lebih bermanfaat bagi banyak pihak”, jelasnya.

             

Pameran yang diselenggarakan mulai tanggal 15 Mei sampai 10 Juni nanti merupakan atas kerja sama Musium tekstil Jakarta dengan Pusat Dokumentasi Wastra dan Busana Indonesia melalui karya Asmoro Damais. Karya yang ditampilkan ada 150 buah koleksi Asmoro Damais selama 5 Windhu terakhir (40 tahun) yang diresmikan oleh kepala Musium Tekstil Jakarta pada 15/6/12. Banyak tamu yang berdatangan mulai dari kolektor, para pengurus dan anggota komunitas pecinta wastra, akademisi, pejabat, mitra-mitra musium tekstil dll.


Setiap hari dibuka pukul 09.00-15.00 wib kecuali Senin dan hari libur nasional. Pengunjung bebas melihat-lihat, memotret, semua koleksi yang ada. Ditiap-tiap karya diberi keterangan jenis, bahan, tahun pembuatan dan lain sebagainya. Dijadwalkan pada 20/6 digelar workshop membatik bagi para pelajar dan masyarakat umum, serta diskusi/ talkshow dengan pembicara Ibu Judi Achmadi dan Ibu Asmoro Damais pada Sabtu, 26/6/12.


Harapan dari pameran ini adalah untuk mendekatkan wastra tradisional kepada masyarakat, serta makin mendekatkan Musium Tekstil kehati masyarkat sebagai lembaga edukatif kultural yang turut berperan memperkuat jadi diri bangsa seperti yang terucap dalam “Salam Musium Tekstil, Lestari Wangsa Bangsaku”. (Irham)


LAGI, BATIK BAKARAN MENJADI OBYEK KREATIFITAS MAHASISWA

Tak lama ini mahasiswa dari kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) membuat kegiatan yang asyik bersama masyarakat pembatik Bakaran. Kegiatan yang dilakukan sebagai program kreatifitas mahasiswa (PKM) dengan menggelar pelatihan-pelatihan yang dibiayai oleh DIKTI . Mereka melirik batik bakaran untuk dijadikan obyek kreatifitas mahasiswa karena melihat batik bakaran yang masih asli dan tradisional.


Unik sebagai koordinator tim dari Udinus menggandeng bersama komunitas batik Juwana untuk memberikan pelatihan terkait dengan peningkatan profesionalitas dalam membatik. Namun yang menjadi proiritasnya adalah ibu-ibu rumah tangga yang memang belum mau memanfaatkan batik yang peluangnya saat ini semakin lebar. Menurutnya, dengan kegiatan ini masyarakat bisa melihat bahwa batik ternyata bisa menjadi penghasilan dalam keluarga.

“Harapan kami dari pelatihan ini adalah melatih para ibu-ibu rumah tangga yang belum mempunyai pekerjaan supaya mendapat ketrampilan baru agar mereka dapat menambah pendapatan keluarga. Lalu pengrajin di tingkat masyarakat dapat lebih mendalami Batik Tulis sehingga bisa berhasil dan tetap eksis serta dapat meningkatkan pendapatan pengrajin kecil dan tentu harus dibantu dalam hal pemasarannya. Dan yang paling utama tujuan dari pelatihan ini adalah menjadikan ibu-ibu rumah tangga yang mandiri bahkan dapat membantu pendapatan keluarganya. Untuk itu,perhatian dari pemerintah desa dan pemerintah kota untuk mengadakan pelatihan-pelatihan ketrampilan seperti ini bagi ibu-ibu rumah tangga agar ibu-ibu rumah tangga mendapat ketrampilan-ketrampilan yang baru”, jelas Unik.

 

Pelatihan-pelatihan yang digelar dibalai desa Bakaran Wetan diberi tema "i love batik" yakni dengan menanamkan rasa cinta terhadap batik dan memberi pengajaran teknik-teknik membatik mulai dari pencantingan, pewarnaan, perawatan dst., yang efektif dan efisien walau masih menggunakan teknik tradisional. Selain itu juga menekankan pada kualitas batik mulai dari bahannya dan  tingkat kerajinannya.

 Herutomo salah satu tim pelatih dari komunitas batik Juwana mengatakan, bahwa dengan kerjasama antara masyarakat dan kalangan akademisi mempunyai dampak positif yang besar. Masyarakat yang memang bertempat didesa dan pengetahuan yang masih tradisionil akan mengalami perubahan pola pikir setelah ada kontak dan pengetahuan-pengetahuan baru.

“Masyarakat sangat antusias sekali setiap kali ada program yang diadakan dari kalangan akademisi, karena keduanya saling mengisi antara teori dan praktik. Dan disini juga saya sama-sama belajar”, tuturnya.  - yuwanamu (irham) -


RUMAH ANSOR--RUMAH PUBLIK JUWANA, RUMAH INSPIRASI

 

Ruang publik adalah sebuah ruang dimana terjadi interaksi antara orang-orang secara umum. Tempat bergumul, tempat jejagong, berdiskusi, dan bisa juga tempat curhat.Ruang publik ini sangat penting sekali, karena sebagai sarana berkomunikasi masyarakat. Dampaknya sangat besar sekali bisa menjadi pusat informasi, pusat kegiatan, kreatifitas masyarakat, dan pusat perubahan sosial budaya.

 

  

 

Hampir semua daerah, desa mempunyai ruang publik, entah memang disengaja dibentuk atau memang dengan sendirinya. Satu misal, ada sebuah warung makan dimana warung ini juga untuk tempat jejagong warga. Selain mereka jajan juga karena mereka ingin berbincang-bincang lama. Bahkan antara jajan dan ngobrolnya lebih lama ngobrolnya dan ini sudah menjadi kebiasaannya setiap hari. Secara otomatis warung ini menjadi sebuah pertemuan kecil para pelanggannya.

 

                          

 

Rumah Ansor adalah salah satu tempat publik yang memang sengaja didirikan oleh orang-orang Ansor di Juwana. Sebagai rumah publik, Rumah Ansor sebagai wahana informasi dan komunikasi masyarakat Juwana dalam rangka menggali berbagai kabar yang paling baru.  Mengingat Juwana yang potensial ini “Rumah Ansor  berperan sebagai pusat informasi Juwana (Juwana Project)”. Apa yang ada di Juwana dan apa yang bisa di kerjakan di Juwana akan menjadi sebuah misi-misi yang akan dikembangkan.

Ruang publik ini dibuka setiap malam hari. Berada di sekretariat GP Ansor Juwana/ gedung MWC NU Juwana. Tersedia fasilitas WIFI/ HOT SPOT Area free tanpa password.Juga untuk menjaga kebetahan ngobrol disediakan warung Tjap Bintang Songo yang menyediakan wedang kopi, wedang jahe, teh anget, teh poci, nasi kucing, gorengan, dan lain sebagainya penyuguh pelengkap. Dilengkapi juga buku perpustakaan dan majalah-majalah Islami.

          
Hampir setiap malam penuh sesak orang-orang mendatangi ruang publik ini. Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, orang tua bersama keluarganya, dan yang paling dominan adalah kaum remaja. Mereka datang hanya sekedar ngopi, ada yang cari makan, membuat tugas sekolahnya, menghilangkan kepenatan, refresheng keluarga, berdiskusi, konsoltasi dll. Tempat duduk yang tidak formal atau lesehan membuat pengunjung lebih nyaman. Disamping itu mereka bisa menemukan sebuah inspirasi. Karena dengan jagongan bebas/ jagong maton beberapa ide liar bisa ditemukan.
Setiap malam pengurus Ansornya mengadakan pertemuan membuat agenda obrolan yang selalu berbeda-beda. Kadang soal ekonomi-bisniss, soal perkpalan, industri, perikanan, kesenian,  sosial-budaya, agama, dan lain sebagainya sesuai kebutuhan. Seperti kata Harwi ketua Ansornya, tempat pertemuan ini memang sengaja didesain untuk sebuah pertemuan bebas masyarakat Juwana khususnya, dengan memberikan fasilitas-fasilitas untuk melakukan hal yang positif. "Kami sediakan Rumah Ansor untuk masyarakat Juwana khususnya untuk mendapatkan berbagai informasi. Karena tempat ini sudah disediakan beberapa fasilitas publik untuk mendapatkan sebuah hal yang positif bagi mereka. Selain itu juga Ansor Juwana berusaha mandiri, karena dengan usaha Angkringan Tjap Bintang Songo ini organisasi bisa mendapatkan keuntungan yang akan digunakan untuk kegiatan bersama. Dan juga tujuannya melatih kader-kader Ansor Juwana bisa berwirausaha. Kami masih rencanakan tahapan selanjutnya dalam hal pengembangan ekonomi kader dan masyarakat. Kami terbuka bebas untuk siapapun dan bagi masyarakat yang ingin berkonsoltasi bisa langsung datang saja di skretariat di malam hari, pasti kita layani", jelasnya.

Selama terbukanya tempat ini masyarakat merespon bagus. Bahkan ada perubahan positif bagi lingkungan sekitar, yaitu merasa aman karena sebelumnya jalan disekitar itu sepi dan sering ada penjambretan. Terlihat juga sebagai pusat santri tampak yang kunjung adalah para bersarung.
- yuwanamu (irham) -


BENTUK  BINA KELUARGA LANSIA, KESEJAHTERAAN HIDUP TERJAMIN 


Lanjut usia adalah usia yang sudah lanjut/ renta. Kondisi fisik dan mental yang semakin lemah dan tidak berdaya. Banyak orang menganggap semakin tua, semakin renta sifatnya kembali kekanak-kanakan. Sudah tidak bisa produktif lagi. Bahkan semakin merepotkan yang muda. Ada juga yang mengatakan masa lansia adalah masa pensiun, masa istirahat, masa menikmati bersama anak dan cucu.

Kondisi lansia tidak bisa dihindari lagi. Merupakan suatu hal yang alamiah. Dan setiap daerah pasti terdapat banyak lansia. Mestinya setiap daerah menaruh perhatian khusus kepada kaum lansia. Seperti halnya desa Bakaran Wetan yang seluruhnya ada sekitar 520 lansia laki-laki dan perempuan.

Desa ini menganggap penting dalam memberi perhatian kaum ini, sehingga kepala desanya membentuk sebuah wadah yang diberi nama Bina Keluarga Lansia (BKL)."BKL ini adalah sebuah wadah bagi kaum lansia Bakaran Wetan untuk memberi pembinaan-pembinaan dan perhatian khusus pada mereka supaya bisa terhindar dari perkara-perkara yang tidak diinginkan oleh keluarga", tutur Tarmuji kepala desa Bakaran Wetan.
   
"MARDI WARAS" adalah nama dari bina keluarga lansia ini. Banyak kegiatan yang telah dilakukannya, meliputi dari pemberian kesehatan, pemberdayaan ekonomi, penyuluhan hidup sehat, konseling dan lain sebaginya yang berkaitan dengan masalah lansia. Setiap sebulan sekali melakukan pertemuan yang diadakan setip tanggal 22 di balai desa bakaran wetan.

Menurut Kartini, ketua BKL Mardi Waras, pertemuan itu selalu rutin dilakukan untuk memberi ruang kepada kaum lansia. "Ada 520 lansia yang terdata di desa ini dan setiap sebulan sekali meraka kita undang atau kita datangi untuk mengecek kondisi mereka. Selain itu kita beri pembinaan terkait dengan kesehatan, ekonomi, kemandirian, pola hidup sehat dan sebagainya dengan harapannhidup mereka semakin baik, semakin sejahtera dan kesehatannya terjamin", jelasnya.
 
Pada 04/04/12 kemaren BKL Mardi Waras didatangi oleh tim lomba penilaian keluarga lansia dari kabupaten Pati. Tim ini akan menilai seberapa jauh perangkat desa menaruh perhatian kepada kaum lansia. Hampir seluruh desa dikabupaten Pati dinilai dan yang paling bagus perhatiannya desa kepada lansia akan diberi penghargaan dari kabupaten. (Irham-red)


MADRASAH JADIKAN BATIK SEBAGAI SARANA BEREKSPRESI SISWA


 
Lembaga pendidikan makin sadar atas potensi lokal yang harus dikembangkan. Seperti halnya karya seni masyarakat batik bakaran Juwana.
Batik yang sudah hampir 5 abad an eksis di Juwana sampai sekarang perlu dikembangkan mutunya, mulai desain pola, kerajinan, teknik pewarnaan, dan lain sebagainya sehingga nantinya mampu bersaing dipasar nasional.

                   

Madrasah yang sebagai lembaga pendidikan agama yang sebelumnya terkesan mengesampingkan pelajaran materi/ keduniaan ternyata sudah bergeser. 
Kini Madrasah Tsanawiyah Matholiul Falah Langgenharjo Juwana ingin menjadikan batik sebagai kurikulum.Sementara ini batik hanya sekedar ekstrakurikuler.

   

Melihat respon siswa dan orang tua sangat baik dan didukung penuh.Beberapa hari kemaren digelar kegiatan ekstra batik. Dalam kegiatan ini siswa disuruh membuat telapak meja batik tulis bakaran Juwana.Pelatihan mulai membuat pola, mencanting, mewarnai dan melorod.Kegiatan dilaksanankan pada jam sekolah di ruangan belajar.Siswa dibagi perkelompok. 1 kelompok terdiri 4 orang.



Guru kesenianya Muizzudin menggelar kegiatan ekstra ini mempunyai tujuan, supaya siswa yang berbakat bisa berkembang. "Siswa akan terasah potensi seninya,siswa mempunyai skill, siswa diberi kebebasan berekspresi melalui seni, siswa siap mandiri setelah lulus, dan setelah ini akan diberi pelajaran kewirausahaan", jelasnya pada juwana.net.


Dia berharap, semoga batik ini bisa menjadi kurikulum yang pasti di madrasah sebagai potensi unggulan di Juwana. Baru-baru ini lagi kenalkan untuk menjadi pelajaran siswa. Semoga masyarakat tidak salah persepsi, karena dengan pembekalan skill ini anak bisa mandiri dalam berwiraswasta, mengembangkan bakat siswa, menanamkan cinta produk lokal, dan menghargai karya seni masyarakat.--- yuwanamu (irham) -

 

SISWA SMK PRAKTIK PELAYARAN DI JUWANA


Juwana yang memang daerah pesisir/ daerah perikanan menjadi incaran oleh para SMK pelayaran sebagai tempat praktik. Beberapa hari kemaren barusan sekitar 12 siswa SMK N 1 Temon Jogjakarta melakukan praktik kerja Industri pelayaran (prakerin). Rencana mereka melakukan prakerin ini mulai Maret hingga bulan Juni mendatang.

          
    
 
Hampir setahun penuh ada siswa melakukan praktek dan terus bergantian sesuai jadwal yang ditentukan oleh pihak sekolah. 
Seluruh SMK pelayaran dan sekolah tinggi perikanan melakukan prakerin di sini. Menurut H. Rosyidi desa Bendar salah satu warga yang melayani pembimbingan prakerin pelayaran menjelaskan, banyak SMK pelayaran dan sekolah tinggi perikan melakukan praktik disini dan hampir seluruh Indonesia datang, mereka memilih Juwana sebagai tempat praktik karena kapalnya yang tersedia ada beberapa pilihan mulai yang besar sampai yang biasa. 
"Kapal yang disediakan untuk siswa praktik meliputi kapal porsin, kapal cantrang, kapal longlem, kapal cumi, dan perahu kecil/ cukrik/ kapal harian. Siswa tinggal pilih mau praktik dengan kapal yang mana atau semuanya", jelasnya.
 
Rosyidi dalam hal ini sangat berpengalaman. Dia menekuni pembimbingan ini sudah 15 tahun lamanya. Siswa SMK maupun Sekolah tinggi perikanan dan pelayaran merasa puas mengikuti bimbinganya.


Ada beberapa materi yang diberikannya dalam bimbingan praktik pelayaran. Yaitu mulai dari pembimbingan didarat dan di laut yang meliputi pembimbingan mental dan fisik,  pembekalan sebelum berlayar, pembekalan saat berlayar, pengurusan surat-surat berlayar dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pelayaran. Disamping itu siswa diberi fasilitas memadahi, kebutuhan makan, tempat tinggal, sertifikat berlayar, disiapkan. Siswa lebih banyak berada di laut untuk mengikuti praktik berlayar nelayan setempat.-Irham-
 

VIHARA TERTUA BERUBAH CANDHI


 

Juwana - Agama Budha di Juwana termasuk agama yang sudah tua. Pemeluknya sampai pada saat ini masih banyak. Tempat ibadahnya pun semua masih aktif. Salah satu Vihara terbesar di Pati adalah Vihara yang ada di Dukuh Babatan Juwana dan di desa Pekuwon. Perlu diketahui perkembangan umat Budha di Pati tidak terlepas dari peran pemeluk dari Juwana.

 


Khemasarano Mahathera adalah salah satunya, Bikkhu sepuh dari desa Bakaran Wetan yang membawa perkembangan agama Budha di Pati bahkan seluruh Indonesia. Sekitar tahun 1960 beliau ini mendirikan Vihara disebelah selatan Punden. Vihara ini lah yang pertama di kabupaten Pati. Lengkap disertai juga perpustakaan, sekarang koleksi buku-buku kunanya masih disimpan dengan baik.

       

 

Beliau ini menjadi Bikkhu dengan usia yang sudah tua alias telat, namun keberadaanya membuat pengaruh besar di kalangan pemeluknya. Vihara Tanah Suci Semarang salah satu Vihara yang berkembang bagus adalah diantara usaha Beliau. Dan pernah tinggal lama disana menjadi sesepuhnya.

Yang masih diingat oleh kalangan Bikkhu di Indonesia adalah bahwa yang membentuk Sangha adalah Beliau ini. Sangha merupakan kumpulan 5 Bikkhu. Pertama kali adanya Sangha adalah di Bakaran Wetan. Menurut Sumarno, salah satu pengurus Candhi dan ummat Budha di Bakaran ini, Sangha yang sekarang berkembang sampai tingkat Nasional/ se-Indonesia berawal dari bentukan beliau ini. Dan saat ini Sangha di Indonesia diketuai oleh 1 Ketua Umum.

Vihara yang didirikan di Bakaran yang merupakan Vihara tertua dikabupaten Pati sekarang dibongkar dirubah menjadi Candhi, karena bangunannya yang sudah tua dan rapuh. Yang unik lagi masih satu komplek terdapat tempat ibadah yang berbeda dan berdampingan. Disisi samping kanan-kiri Candhi (sekarang ini) ada Mushola dan TPQ, didepanya ada Gereja dan semuanya aktif dan tidak ada permasalahan apapun.

 

  

 

Sabtu, 3/3/12 kemaren adalah peresmian Candhi. Candhi ini untuk menyimpan abu Bikkhu Khemasarano mahathera dan untuk berdoa umat Budha. Dalam peresmian tampak hadir pejabat setempat, mulai dari pejabat sementara Bupati Pati, Camat Juwana, Kapolsek, Danramel, perangkat desa dan tamu-tamu lain. Yang menjadi meriah adalah Bikkhu se-Indonesia semua hadir.

 

Dalam sambutanya Pejabat Bupati Pati menuturkan, ummat beragama di Juwana ini sangat beragam sekali dan bisa berdampingan dengan rukun dan damai. “Saya melihat samping Candhi ada Mushola, TPQ, dan Gereja, ini wujud pluralism di Juwana sangat baik dan ini harus dipupuk lebih baik jangan sampai perbedaan menjadi sebuah masalah”, sambutnya.

 


Selain itu Ketua Sanghai Joti Dammou lebih menceritakan perjuangan Bikkhu Khemasarano Mahathera. Joti melihat Bikkhu sepuh ini patut diteladani karenan semangatnya agama budha bisa mengalami perkembangan. “sudah sepatutnya kita menghormat lebih kepada Beliau, karena perjuangannya beliau ini kita bisa lebih baik. Chandi yang dibangun yang diberi nama Candhi Khemasarano Mahathera ini adalah salah satu bentuk penghormatan kepada beliau atas jasa-jasanya yang tidak bisa dilupakan”, tuturnya.

      

 

 

Peresmian ini dibuka pada 13.00 wib hingga pukul 15.00wib yang di buka oleh Pejabat Bupati Pati dengan menandatangani prasasti dan pelepasan balon. Dan diakhiri dengan pemindahan Abu Bikhhu Khemasaro ke Chandi dan berdo bersama. Minggunya dibuka pengobatan gratis bersama masyarakat setempat. Setiap orang yang datang diberi 1 paket obat tanpa bayar. Masyarakat berduyun-duyun berobat yang digelar di Balai Desa Bakaran Wetan ini. (Irham Yuwana)

MANGUT PEDES KEPALA MANYUNG ala JUWANA


Mangut, diskripsi paling sederhananya adalah sebuah menu masakan seperti gulai dengan rasa pedas dengan nuansa khas Jawa Tengah. Adapaun  tingkat kepedasannya mulai dari pedas hingga pedas sekali. Sajian kuliner ini bisa disebut sebagai salah satu kuliner andalan kota JUWANA.


Bahan  baku yang dipakai dalam sajian ini adalah Kepala ikan Manyung asap yang juga merupakan salah satu hasil koditi andalan bidang perikanan dan kelautan para nelayan Juwana dan pengolahannyapun dilakukan di desa-desa pesisir sepanjang pantai, seperti Desa Doropayung, Karangmangu, Bendar dan beberapa desa nelayan lain di Juwana.
Mangut, dalam adonan masakannya selalu menggunakan santan dan kunyit dalam kepekatan yang berbeda-beda – sesuai selera masing-masing – yang juga menjadikan mangut memiliki penampilannya dan cita rasa yang berbeda. Ada yang sangat kuning dengan kuah yang sangat kental dan ada pula yang encer dengan warna kecoklatan. Begitu pula pada tingkat kepedasannya dapat pula sesuai selera. Namun pada umumnya di daerah pesisir  Pantai Utara Laut Jawa (termasuk Juwana) mangut hampir selalu disajikan sangat pedas. Bumbu-bumbunyapun mencitrakan kesan garang. Dan itu semua sengaja dilakukan sebagai imbangan dari rasa dan aroma ikan asap itu sendiri sebagai bahan utamanya

Di Juwana sendiri sebenarnya  ada banyak warung makan/resto/café yang menyajikan kuliner khas ini. Namun demikian, ada satu referensi tempat pilihan yang cukup bisa  dijadikan andalan memanjakan lidah yaitu sebuah warung makan sederhana yang kami kira bisa dikatakan sebagai “juara”nya, yaitu Warung Makan Sederhana yang lokasi tepatnya ada di depan Markas Besar Kepolisian Sektor Juwana, menempel di sebelah pabrik rokok Tapel Kuda. Bahkan ketenaran warung makan ini pernah juga menjadi liputan kuliner eksklusif di salah satu stasiun televisi swasta yang diasuh oleh  Bondan Prakoso atas hasil bincang-bincangnya dengan mantan Menko Kesra Kwik Kian Gie yang memang berasal dari Juwana.
Di warung ini, mangut kepala ikan yang disajikan tergolong sangat pedas. Bahkan pedas pool! Bahkan ketahanan pedasnya sampai 15 menit sesudah makanpun, keringat masih deras mengukur. Wow…. Namun jangan khawatir ada juga penawarnya, pisang, es kweni, es tape ketan hijau dan lain-lain.
Naah pasti tergiur dan penasaran dengan kuliner ini?.. Silahkan berkunjung oke?!***


Catatan :     
Resep Mangut Pedes Kepala Manyung
Bahan     :

1 kepala ikan manyung asap besar   (belah dua)
1 butir kelapa dibuat santan
Bumbu     :

4 siung bawang merah
4 siung bawang putih
1 kelingking kunyit
2 kelingking kencur
1 iris lengkuas
1 ons cabe rawit
4 lbr daun jeruk
½ sdt ketumbar
1 sdt terasi
1 ltr air
Cara membuat :


Mengenang Bupati Juwana


 

 Tidak lupa kan kota juwana !!
Kota kecil ini berada di jalan pantura, sebelah timur kota Pati sebelum Rembang. Termasuk salah satu kecamatan di kabupaten Pati. Mempunyai 29 desa, penduduknya hiterogen. Hampir disetiap desa mempunyai keunggulan masing-masing sebagai potensi lokal. Seperti desa Growong industri kuningan, desa Bakaran batik tulisnya, desa Bajo, Bendar perikananya dan sebagainya.

Selain itu Juwana mempunyai jejak sejarah yang tua dan unik. Salah satunya, menurut analisis Agung dari Sukabumi, salah satu peneliti yang pernah datang di kota ini menuturkan, bahwa Juwana dulu sebagai daerah pusat pemerintahan Belanda. "Hal ini bisa dilihat dari struktur kotanya dan arsitekturnya. Mulai dari kantor pemerintahan, penjara saat itu, lapangan (alun-alun), tempat pendidikan, stasion kereta api (transportasi) dan lain sebagainya, lengkap", katanya. 

Istilah Juwana sudah beberapa kali mengalami perubahan, mulai dari Djoewana, Joeana, Juana, Juwana, dan ada juga yang mengatakan Yuwana.
Banyak cerita unik asal-usul nama ini.

Juwana, sebelum menjadi kota kecamatan pernah menjadi Kawedanan, yang daerahnya meliputi Juwana, Wedarijaksa, Batangan, Jakenan.
Yang tidak boleh dilupakan lagi adalah Juwana pernah menjadi kota kabupaten dan mempunyai bupati, yang sekarang makamnya ada di makam Jatisari desa Growong.

                                              


Ada beberapa Bupati yang pernah menjabat. Menurut silsilah yang ada tahun yang paling lama menjabat Bupati adalah Mas Tumenggung Setdjodirono pada tahun 1755.
Kemudian di tahun 1760-1790 Bupati Kyahi Tumenggung Soerowikromo I, Mas Tumenggung Soerohadiwikromo pada tahun 1790-1798. Ada lagi Kyahi Tumenggung Mangkoedipoero I 1825-1852, Kyahi Tumenggung Mangkoedipoero II tahun 1853-1883, Kyahi Tumenggung Mangkoedipoero III 1884, Kyahi Tumenggung Noropakso (tidak disebut tahun menjabatnya).

Bupati yang terakhir menjabat adalah Bupati Tombronegoro. Menurut cerita Harno, putra dari juru kunci makam Sunan Ngerang Pekuwon, bahwa Bupati Tombronegoro adalah bupati terakhir di Juwana dan tidak sampai penuh menjabat. Karena ditengah perjalanan menjabat di Juwana, saat itu Pati mengalami kekosongan Bupati, sehingga bupati Juwana ditarik menjadi Bupati Pati. Jadi perjalanan pertama di Juwana dan yang kedua di Pati. Setelah Tombronegoro lah bupati Pati akhirnya mangalami pilihan sampai sekarang. Dan setelah ini Juwana menginduk menjadi bagian dari daerah kabupaten Pati.


Bupati Juwana makamnya berkumpul satu komplek berada di makam Jatisari. Makam ini merupakan makam keluarga. Ada juga 1 makam Bupati Juwana berada di desa Pekuwon dan di desa Kajen Margoyoso.
Sekarang yang masih menjadi peninggalan antik adalah Payung. Ceritanya, Payung itu adalah Pusaka ampuh sang Bupati kalau ada masalah-masalah dan peperangan masa Belanda. Saat ini berada di makam yang didalam, disimpan dengan aman.
Banyak calon-calon pejabat menziarahi makam ini sebelum menjadi seorang pimpinan.
(Irham yuwana)


Perencanaan Pembangunan Kecamatan Juwana Libatkan Masyarakat


 

Musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan) merupakan forum masyarakat untuk membahas merencanakan pembangunan. Forum ini merupakan salah satu mekanisme perencanaan pembangunan kabupaten Pati yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali.

 

              

Kalau ditilik dari UU 25/ 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan disebutkan, ada 5 pendekatan yaitu, pendekatan politik (visi-misi bupati), pendekatan teknokratik (rancangan RKPD), pendekatan partisipatif (penjaringan aspirasi masyarakat), pendekatan top down (TP, Dekon dari pemerintah atas), yang terakhir pendekatan bottom up (musrenbang)

      

 

Sebelum mencapai rencana kerja pembangunan daerah (RKPD) yang akhirnya sampai pada penentuan APBD ada beberapa tahapan yang dilakukan mulai dari musrenbang desa/ kelurahan dilanjutkan penjaringan aspirasi masyarakat, hasilnya ditindak lanjuti ke musrenbang kecamatan dilanjutkan ke forum SKPD, hasilnya dibawa ke musrenbang kabupaten dilanjutkan ketahapan RKPD dan menjadi bahan penentu APBD. Hasil RKPD ini juga akan dibawa ke RAPBD provinsi dan RAPBN.


 

Rabu, 15/2/12 diselenggarakan musyawarah perencanaan pembangunan kecamatan Juwana di pendapa Kecamatan. Sebelumnya digelar Jaring Asmara (penjaringan aspirasi masyarakat) pada 7/2/12 yang menghasilkan 63 item permasalahan yang menjadi bahasan dan usulan. 63 item itu meliputi bidang pendidikan, kesehatan, sarana prasarana, pelayanan umum, sosial, ekonomi dan bidang pariwisata. Hasil jaring asmara ini menjadi materi musrenbang kecamatan.

 

Dalam kegiatan ini tampak hadir beberapa perwakilan yang ahli dibidangnya, mulai dari Muspika Juwana, UPTD se-juwana, kepala Bappeda Pati, DPRD kab. Pati, kepala desa se-Juwana, tokoh masyarakat se-Juwana dan dipandu oleh satu fasilitator.

 

Menurut Camat  Juwana Indrianto, SH, M.Si., bahwa musrenbang ini merupakan forum masyarakat untuk merencanakan pembangunan kecamatan Juwana. “Forum ini adalah forum masyarakat untuk membahas apa yang menjadi aspirasinya yang diawali dari musrenbang desa. Musrenbang ini merupakan pendekatan bottom up”, jelasnya.

 

Disamping itu salah satu anggota DPRD Pati sismoyo mengatakan, akan berusaha memperjuangkan potensi-potensi yang ada di juwana. “Juwana mempunyai banyak potensi, perikanan, pasar, industry dan lain sebagainya. Dan ini sangat membantu keuangan daerah. Saya berharap masyarakat dan pihak-pihak atau petugas-petugas yang terkait ikut andil dalam pembangunan Juwana sehingga bisa memperlancar kegiatan, sistem pengelolaanya lebih diperhatikan”, tegasnya.

 

Peserta musrenbang antusias sekali. Yang dibuka mulai pukul 09.00 sampai 13.00wib. Banyak tanggapan yang muncul yang menjadi pembahasan serius hingga bia mencapai pada titik kesepakat untuk dibawa ke forum SKPD yang akan dikawal 3 orang delegasi yang ditunjuk.


 

SULTAN SURAKARTA KUKUHKAN KOMUNITAS ADAT JUWANA


Hari Minggu 12/2/12 kemaren masyarakat Juwana sekitarnya tampak semangat menghadiri pengukuhan komunitas adat dan pengajian akbar di makam Kyahi Ageng Ngerang desa Trimulyo. Bebondong-bondong menuju makam dengan senang ria di puncak acara ini.

                        

Acara ini digelar untuk memperingati  Kyahi ageng Ngerang atau masyarakat menyebutnya haul. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan, mulai dari karnafal, tahlian, istighosahan, khataman, pengukuhan komunitas adat dan sebagainya. Hampir dua minggu berturut-turut.

Pengukuhan komunitas adat dilanjutkan pengajian bersama adalah sebagai penutup beberapa rentetan kegiatan haul yang merupakan inti dari beberapa kegiatan. Ada 64 anggota yang dikukuhkan sebagai komunitas adat oleh kesultanan Surakarta. Pengukuhan dilaksanakan di sebelah kanan makam  sebelum pengajian bersama di mulai.


Menurut Darto, salah satu pengurus yayasan sunan Ngerang mengatakan bahwa makam ini sudah diakui oleh keraton Surakarta kalau masih ada hubungan keluarga keraton. Sehingga dari pihak keraton berkenan hadir pada saat acara pengukuhan ini. “Makam Kiyahi ageng Ngerang ini dibawah pengelolaan yayasan Sunan Ngerang. Sudah lama kami melakukan persiapan untuk kegiatan ini. Salah satunya kita membentuk komunitas adat yang anggotanya seluruh masyarakat Juwana. Dan padi titik Alhamdulillah pihak keraton Surakarta mengukuhkan makam dan komunitas adat”, jelasnya.

  

Sunan Ngerang

Kyahi Ageng Ronggojoyo adalah nama dari Kiyahi ageng Ngerang yang ada didesa Trimulya ini. Setiap setahun sekali dihauli yaitu pada bulan maulud ini (bulan jawa). Masyarakat setempat mengakui bahwa Sunan Ngerang yang disini adalah yang pertama.


    

Masih berbeda pendapat, menurut buku sejarah perjuangan Sunan Ngerang yang disusun oleh Dyan Achsin, bahwa Sunan Ngerang hanya ada 1 yang makamnya berada di desa Pakuwon. Disana ada beberapa makam kuna berkumpul satu komplek. Dan sudah menjadi heritage (cagar budaya). Yang di desa Trimulaya atau Kyahi Ageng Ronggojoyo adalah murid beliau.

By yuwanamu (irham)


Arak-arakan Cap Gomeh di Juwana


Cap gomeh merupakan puncak atau akhir perayaan Imlek. Kini umat Klenteng Tjoe Tik Bio Juwana merayakanya pada 6/2/12 Senin kemaren.
Beberapa ritual pun digelar. Yakni mulai dari arak-arakan Liong Sam Laksana Dharma Juwana yang dimulai pukul 15.00wib. dari Klenteng.
Liong  ini bersama barongsai dan diiringi musiknya mengelilingi kota Juwana. Dan berakhir sampai pukul 18.00wib di Klenteng.

 

 


Masyarakat sekitar pun tidak ketinggalan menyaksikanya, mulai dari tua- muda, pria-wanita,anak-anak sampai yang dewasa. Disemua sudut persimpangan Jalan pasti dipadati oleh penonton yang benar-benar sudah menanti berjam-jam.
acara seperti ini digelar hampir setiap tahun. Untuk yang ini merupakan puncak dan pusat perayaannya dari beberapa Klenteng di Juwana dan Pati.
Selain Arakan, malamnya digelar sembayang lontong Cap gomeh yang berakhir pada 23.00wib.
menurut ketua umum perayaan Imlek kabupaten Pati, Edi Siswanto saat diklenteng ini, bahwa sembahyang lontong di klenteng Tjoe Tik Bio adalah puncak dan penutup perayaan Imlek.

 



"Dengan perayaan ini kita bersyukur semoga ditahun yang akan kita lewati (2653) masyarakat kabupaten Pati diberikan perlindungan dan keselamatan, yang merupakan tujuan perayaan cap gomeh", tuturnya.
Pada pukul 19.00 sampai 23.00 Wib, panitia menyelenggarakan ramah tamah dan makan lontong sayur bersama tokoh-tokoh dan unsur Muspika di Juwana di klenteng yang sudah berusia hampir 280 tahun itu.( ir-red.)

- yuwanamu (irham) -



Proses Pewarna Alami


Batik warna alam adalah batik yang proses pewarnaanya menggunakan bahan-bahan alami. Seperti dedaunan, kayu, kulit, buah-buahan. Warna yang dihasilkan cenderung soft/ halus berbeda sama sekali dengan zat warna sintetis.

 

Adapun prosesnya sebagai berikut.

 

Yang perlu dipersiapkan:

 

1. mori batik (siap di warna)

 

2. zat pewarna alam

 

3. fiksasi (pengunci warna)

 

Cara Pembauatan

 1.Mori batik yang sudah siap diwarna terlebih dahulu direndam dg air 10 L dan TRO gr sampai rata selama 10 menit kemudian ditiriskan baru dicelup zat warna alam.

 

 2. Zat warna alam.

 

 

Bahan-bahan: (kayu, kulit kayu, daun, bunga, akar, buah, dll) yang bisa keluar warna.

 

Contoh saja daun sawo.

 

Air 10 L direbus bersama daun secukupnya hingga tinggal 7 L

 

Terus didinginkan sehabis itu disaring (siap untuk dicelup).

 

 

Cara pencelupan:

 

Mori batik dicelup rata dalam larutan lebih kurang 5-10 menit, tiriskan, terus diangin-anginkan secara terbuka ditempat teduh. Setelah kering dicelupkan lagi. Sampai 10 kali celupan akan mendapatkan kualitas bagus.

 

Setelah terakhir kering difiksasi (dikunci dengan zat pengunci)

 

 

Cara Fiksasi :

 

ada 3 jenis fiksasi dan tinggal pilih : Bisa menggunakan tawas, kapur, atau tunjung.

 

 

Cara pembuatan larutan fiksasi tawas :

 

1. tawas 300 gr

 

2. air 4 L

 

diaduk sampai larut. kain yang sudah kering tadi dicelup+- 5 menit. Kemudian diproses selanjutnya

 

 

Fiksasi kapur:

 

1. kapur 300 gr

 

2. air  6 L

 

3. diaduk rata

 

4. biarkan mengendap

 

5. ambil air jernihnya

 

kemudian kain dicelup +-10 menit kemudian di proses selanjutnya.

 

 

Fiksasitunjung :

 

1. tunjung 120 gr

 

2. air 4 L

 

3. diaduk rata

 

kain dicelup +- 2 menit tiriskan, diangin-anginkan hingga kering dan proses selanjutnya jadi deh ...

 

Ingat : Zat pewarna sama tapi kalau dicelupkan ke zat pengunci ke tiga itu hasilnya berbeda-beda

 

selamat bereksperiman, semoga bermanfaat.

 

 

salah satu contoh warna alam dari kayu mahoni dengan fiksasi tunjung


PEMBUKAAN PELATIHAN BATIK TULIS BAKARAN KULON JUWANA

RABU 28 Des 2011.


Pebukaan pelatihan batik tulis Bakaran Juwana Peserta ini terdiri perajin pemula dan perajin yang sudah lama

 

 

 

 

 

KARENA HOBI, BATIK MENJADI TUMPUAN HIDUP[*]

  (Oleh: Irham)


 


                                  

 

Membatik bagi orang Bakaran merupakan suatau hal yang sudah melekat, bagian dari hidupnya. Dilakukan bertahun-tahun, turun-menurun dengan berbagai alasan yang mendasar. Ada yang karena atas dasar hobi, untuk mengisi kekosongan, dan karena menjadi pekerjaan kesehariannya. De Yem (55) salah seorang wanita yang masih bertahan membatik hingga sekarang. Bagaimana ceritanya ?... Berikut kisahnya!

 

De Yem, masyarakat menyebutnya, yang nama lengkapnya Kasiyem (55) desa Bakaran Wetan Rt. 03 Rw. 01. Adalah seorang ibu tua yang masih bertahan membatik hingga saat ini. Baginya membatik adalah aktifitas yang tiap hari dilakukan. Karya batiknya sudah tidak diragukan lagi. Dikalangan masyarakat  karya batiknya dinilai halusan.

 

Kamis 8/12/11, tepatnya pukul 11.00 wib. Saya bersilaturrahmi kerumahnya  sambil mengantarkan cetakan selembar foto bersama ibu Poppy Dharsono dan 2 lembar kain mori putih untuk dibatik. Dengan gayanya yang “njawani”, mempersilahkan duduk dan berbincang asyik diruang kerjanya yang tidak begitu luas. Yaitu disebelah samping kanan rumah dengan lebar 2 M masih didalam pagar dekat dapur.

 

Dengan suasana yang santai, sambil membatik, De Yem bercerita banyak tentang dirinya. Di tahun 1985 lah ibu berusia 55 tahun ini, mulai tinggal di Bakaran. Dan disinilah memulainya membatik. Sebelumnya, kasiyem ini tinggal di Wonogiri tempat kelahiranya. Berbagai pekerjaan pun pernah dijalaninya. Pernah menjahit, menjadi tukang masak, perias janur, tukang salon. Pernah juga diminta membantu  pekerjaan pak leknya yang seorang desainer dan mengembangkan batik. Saat itu dia sudah memahami bagaimana seluk beluk membatik. Namun karena belum mempunyai niatan menekuninya akhirnya hanya sekedar membantu saja. Dia mengaku pernah tinggal di Jakarta selama 16 tahun mengikuti suaminya. Selama disana dia bekerja di persalonan. Tepatnya pada tahun 1985 suaminya keponakan Mbah Tamat Bakaran Wetan, disuruh pulang untuk merawat dan menempati rumahnya. Hingga sekarang disinilah tempat tinggalnya.

 

Saat pertama kali tinggal di Bakaran dirasakan sepi karena tidak mempunyai pekerjaan. Tiap harinya tidak ada kesibukan melainkan sebagai ibu rumah tangga biasa. Disebabkan lingkungan sekitarnya pada membatik, dan kondisi yang kosong akhirnya minat untuk membatik tumbuh dan sampai sekarang masih dilakukan yang menjadi sumber penghidupanya.

 

De Yem sejak awal mula membatik lebih suka membikin motif/ pola batik sendiri. Sangat jarang membatik menggunakan pola orang lain. Dia mengaku sedikit banyak ilmu soal desain pola memahami. Dalam membuat pola dan membatik, Kasiyem atas dasar hobi, dan kesenangan hati. “Saya membatik, menciptakan motif karena hobi dan kesenangan hati. Walaupun pola itu rumit, kalau saya senang akan saya buat, dan sebaliknya pola itu terlihat gampang tapi tidak ada rasa senang dan mood di hati untuk membatik, tidak akan saya kerjakan. Berbagai pekerjaan pernah saya lakukan. Saya memilih membatik menjadi pekerjaan karena atas panggilan jiwa. Membatik itu kalau tidak dengan dasar perasaannya, pasti hasilnya kurang bagus, terlihat tidak hidup”, tuturnya.

 

Dia mempunyai cara-cara disaat menciptakan pola batik. Terkadang setelah melihat baju orang dan ada motif batiknya yang bagus, ini bisa menjadi inspirasi dan terciptalah sebuah motif batik. Selain itu, dengan cara mengarang terlebih dulu, mengikuti kata hatinya, kadang melakukan perenungan dahulu terus membuat orek-orekan dikertas, lalu disalin dengan sempurna dikertas pola, jadilah sebuah pola batik. Kebanyakan saat menciptakan motif, dipengaruhi suasana hatinya dan lingkungan sekitar/ gejala sosial yang terjadi. 

 

Batik yang dibuatnya diera akhir tahun 80-an dan awal tahuan 90-an adalah dalam bentuk jaret/ tapeh, sarung, emban-emban dengan corak klasik. Harga berkisar Rp. 25.000, yang jaret Rp 30.000 per lembar berukuran 2,5 M. Waktu itu preses soganya dilakukan di Solo dengan jenis soga gennes. Berangkat ke Solo 3 bulan sekali dengan membawa 10-14 lembar batik yang sudah decanting (masih mentah) untuk di soga. Dibawa ke Solo, karena atas permintaan pembeli dengan jenis soga gennes. Di Bakaran jenis soganya berbeda seperti yang di Solo  yaitu agak mengarah cokelat tua mendekati kehitaman.

 

Ditahun 1994 batik bakaran mengalami perkembangan , yaitu membuat batik untuk hem, baju. Termasuk juga De Yem mengikutinya. Dan sudah bewarna-warni coraknya. Sampai sekarang Kasiyem special membatik/ mencanting saja. Proses pewarnaan sampai finishing diserahkan keorang lain dan dikerjakan di Bakaran sendiri. Dia hanya melayani pesanan saja. Tidak ada barang yang distok. Harga batik yang diciptakan dijual antara Rp. 250.000 sampai Rp. 500.000 sesuai tingkat kerumitan motif, dan lamanya pembuatan. Selama membatik dia tidak pernah menjadi buruh juragan batik. Lebih suka mandiri. Membuat sendiri untuk di jual sendiri. “Saya merasa merdeka dengan yang seperti ini, saya atur-atur sendiri tanpa ada ikatan yang menjerat. Pernah sebentar saya di kasih garapan oleh juragan, tapi ini tidak mengikat, dan karena ada unsur kerja sama denganya. Karena disaat itu saya menginginkan proses finishing batik saya disana”,  ujarnya.

 

Saat ditanya soal sejarah batik bakaran, dia mengaku tidak mengetahuinya karena seorang pendatang. Dia hanya cerita, kalau masih ada sesepuh batik yang sudah tua, sekarang usianya sudah lanjut, namanya mbah Mur Carik. Dia terkenal batikannya yang halus. Hampir semua orang memesan pada dia saat masih produktif. “Saat ini Sudah tidak membatik, mungkin bisa tanya ke dia kalau soal sejarah batik disini. Mbah Mur itu, ibunya dulu juga pembatik, namanya Mbah monah”, kata De Yem.


[*] Ditulis oleh Irham, wawancara pada Kamis, 8 Desember 2011 di kediamannya Ibu Kasiyem pukul 11.00 wib


 



Pameran di Dewan Kerajinan Nasional Kementrian Perindustrian 22-24 November 2011


        

 

    

 

 

                           


Sekolah di Stasiun Tua Juwana


 

Pendidikan tak harus mahal. Warga seputar stasiun tua di Juwana memanfaatkan ruangan eks stasiun Juwana sebagai kelas belajar pendidikan usia dini. ruangan itu dulunya adalah kantor stasiun yg dibangun sejak jaman Belanda (belum diketahui tahun berapa berdirinya stasiun tua itu). Semoga PT KAI terus melindungi keberadaan stasiun tersebut, sekaligus memberdayakan warga sekitar.



PPKI 2011


Pameran Produk Kreatif Indonesia 2011 di Jakarta Convention Center pd 6-10 Juli lalu. Aikon media publik diundang pameran, dan mengetengahkan Juwana Project sebagai sebuah cerita ttg potensi sebuah kawasan di pantai utara. Kawasan Juwana yg akan makin berkembang pesat bila membangun sektor ekonomi kerakyatan berbasis kreativitas.

         



Festival Dewi Kwan Iem di Juwana 14-15 Oktober 2011


                  

         

                   

               

                   

            

         

 

 

cara pembelian (bantuan)
(total barang. ), (total harga. Rp. ) Bayar, Reset Keranjang Belanja